Pernahkah kamu melihat video behind-the-scenes (BTS) yang terlihat profesional dan bertanya-tanya, “Apakah saya perlu kamera mahal untuk membuat konten seperti ini?” Banyak videografer pemula percaya bahwa hasil BTS yang berkualitas hanya bisa dicapai dengan gear seharga puluhan juta rupiah. Kenyataannya, dengan smartphone yang sudah kamu miliki, sedikit kreativitas, dan pemahaman yang tepat, kamu bisa menghasilkan konten BTS yang menarik dan autentik.
Di era media sosial saat ini, konten BTS menjadi semakin penting—bukan hanya untuk filmmaker besar, tapi juga untuk content creator, startup, bahkan bisnis kecil yang ingin membangun koneksi dengan audiens mereka. Video BTS memberikan transparansi, menunjukkan proses kreatif, dan menciptakan keterlibatan yang lebih dalam. Artikel ini akan memandu kamu membangun setup BTS videografi yang efektif tanpa menguras kantong, lengkap dengan solusi DIY, tips praktis, dan strategi yang langsung bisa diterapkan.

Memahami BTS Videography dan Perannya
Apa Itu BTS Videography?
BTS videography adalah praktik merekam konten “di balik layar” yang mendokumentasikan proses produksi—mulai dari persiapan, setup peralatan, kolaborasi tim, hingga momen-momen candid yang terjadi selama produksi. Berbeda dengan video utama yang dipoles sempurna, BTS menampilkan sisi mentah dan autentik dari proses kreatif.
Konsep BTS sebenarnya sudah ada sejak era film klasik dengan making-of dokumenter, tapi kini berkembang menjadi konten wajib di platform seperti YouTube, Instagram, dan TikTok. Tujuan utamanya adalah memberikan konteks, membangun kepercayaan audiens, dan menunjukkan bahwa di balik hasil akhir yang sempurna, ada kerja keras dan problem-solving kreatif yang nyata.
Mengapa Gear Minimal Bisa Menghasilkan Konten Profesional
Banyak pemula terjebak pada mitos bahwa kualitas video berbanding lurus dengan harga peralatan. Padahal, gear BTS yang efektif adalah yang portabel, fleksibel, dan tidak mengganggu alur kerja produksi utama. Setup minimal—seperti smartphone dengan aplikasi manual control, stabilizer sederhana, dan mikrofon clip-on—justru lebih praktis untuk menangkap momen spontan yang menjadi esensi BTS.
Smartphone modern sudah dilengkapi sensor berkualitas tinggi, kemampuan merekam 4K, dan stabilisasi elektronik. Dengan aksesori tambahan yang terjangkau dan teknik yang tepat, hasil yang profesional bukan lagi hal mustahil. Yang lebih penting adalah pemahaman tentang framing, komposisi, pencahayaan, dan storytelling.

Ruang Lingkup Gear BTS: Smartphone, Action Cam, dan Stabilizer
Gear BTS tidak harus kompleks. Tiga komponen utama yang perlu kamu pahami adalah:
Smartphone Videography: Memanfaatkan kamera ponsel dengan aplikasi seperti Filmic Pro untuk kontrol manual ISO, shutter speed, dan fokus. Tambahkan mikrofon eksternal dan LED kecil untuk meningkatkan kualitas audio dan pencahayaan.
Action Cam: Kamera kompak seperti GoPro sangat ideal untuk sudut pengambilan dinamis, pemasangan di lokasi sulit, atau untuk merekam gerakan cepat. Lensa wide-angle-nya memberikan perspektif imersif yang menarik untuk BTS.
Stabilizer: Baik mekanis maupun motorized (gimbal), alat ini mengurangi guncangan kamera secara signifikan, membuat footage terlihat lebih sinematik. Versi budget-friendly untuk smartphone sudah banyak tersedia di bawah satu juta rupiah.
Konsep Minimal Setup dan Solusi DIY
Minimal setup adalah filosofi “less is more”—fokus pada gear esensial yang multifungsi dan mudah dibawa. Ini bukan berarti mengorbankan kualitas, tapi memaksimalkan apa yang sudah ada dan menambahkan komponen strategis sesuai kebutuhan.
Solusi DIY melengkapi pendekatan ini dengan memodifikasi barang sehari-hari: klem untuk mounting smartphone, lampu meja sebagai lighting, bahkan pipa PVC untuk stabilizer buatan sendiri. Kreativitas dalam memanfaatkan resources yang terbatas justru sering menghasilkan inovasi yang unik.
Mengapa BTS Videography Penting untuk Produksi Kreatif
Meningkatkan Engagement dan Membangun Brand
Konten BTS memiliki kekuatan unik untuk meningkatkan engagement karena menampilkan sisi manusiawi dari proses kreatif. Audiens tidak hanya melihat produk akhir, tapi juga perjuangan, humor, dan kerjasama di baliknya. Ini menciptakan koneksi emosional yang lebih kuat.
Untuk bisnis dan brand, BTS berfungsi sebagai alat storytelling yang autentik. Startup bisa menunjukkan dedikasi tim, produksi film indie bisa membangun anticipation, dan content creator bisa memperdalam loyalitas subscriber. Transparansi ini membangun kepercayaan yang sangat berharga di era digital.
Fleksibilitas dan Efisiensi Budget-Friendly Setup
Setup BTS yang minimal memberikan mobilitas tinggi—kamu bisa bergerak cepat, tidak mengganggu produksi utama, dan tetap menangkap momen penting. Tidak seperti kamera besar yang memerlukan crew tambahan, smartphone atau action cam bisa dioperasikan satu orang.
Dari segi budget, investasi awal yang rendah memungkinkan kamu untuk mulai segera tanpa menunggu dana besar. Kamu bisa upgrade bertahap sesuai kebutuhan nyata, bukan berdasarkan asumsi atau FOMO terhadap gear terbaru.
Miskonsepsi dan Kesalahan Umum
Hanya Gear Mahal yang Menghasilkan Video Profesional
Ini adalah mitos paling berbahaya. Kualitas video ditentukan oleh kombinasi teknik, pencahayaan, audio, dan storytelling—bukan semata-mata harga kamera. Smartphone flagship dengan sensor bagus, ditambah mikrofon $20 dan pencahayaan DIY, bisa menghasilkan footage yang jauh lebih baik daripada kamera mahal yang digunakan dengan teknik buruk. Untuk menghindari kesalahan umum dalam penggunaan gear, lihat 9 Kesalahan Fatal yang Saya Lakukan Sebagai Freelance Videographer (Dan Cara Menghindarinya).
BTS Memerlukan Setup Berat dan Kompleks
Banyak pemula mengira mereka perlu rig profesional dengan banyak kabel dan aksesori. Padahal, BTS justru harus ringan dan tidak mengganggu. Setup kompleks malah bisa membuat kamu kehilangan momen spontan yang menjadi daya tarik utama konten BTS.
Smartphone Tidak Cukup Sinematik
Anggapan bahwa smartphone “terlihat murahan” sudah usang. Dengan setting yang tepat, shooting dalam format log atau flat profile, dan color grading di post-production, smartphone bisa menghasilkan look yang sangat sinematik. Banyak film pendek dan bahkan film panjang sudah diproduksi menggunakan iPhone atau Android flagship.

Mengabaikan Pentingnya Audio dan Stabilisasi
Pemula sering terlalu fokus pada resolusi video dan mengabaikan audio. Padahal, audio berkualitas buruk langsung merusak persepsi profesionalisme. Demikian pula dengan footage yang terlalu goyang—tanpa stabilisasi, video BTS bisa terlihat amatir meski visual lainnya bagus.
Semua DIY Solution Tidak Reliable
Memang beberapa solusi DIY kurang stabil, tapi banyak yang sangat efektif jika dibuat dengan tepat. Kuncinya adalah testing dan iterasi. Stabilizer sederhana dari PVC atau mounting system dari klem, jika di-engineer dengan baik, bisa bertahan lama dan berfungsi sesuai kebutuhan.
Gear Esensial dan Fungsi Utama untuk BTS Videography
Smartphone: Tulang Punggung Setup Modern
Smartphone adalah pilihan paling praktis untuk BTS. Fitur yang perlu diperhatikan:
- Resolusi tinggi: Minimal 1080p, idealnya 4K untuk flexibility saat editing
- Stabilisasi: OIS (Optical Image Stabilization) atau EIS (Electronic)
- Kontrol manual: Gunakan aplikasi seperti Filmic Pro, FiLMiC Pro, atau Open Camera
Aksesori pendukung:
- Clip-on microphone untuk audio yang jernih
- LED light kecil untuk fill light atau key light sederhana
- Tripod atau gimbal smartphone budget
Action Cam untuk Sudut Pandang Dinamis
Action cam sangat berguna untuk:
- POV shots: Pasang di helmet, chest mount, atau clamp untuk perspektif unik
- Extreme angles: Mounting di tempat sempit atau berbahaya
- Waterproof/rugged situations: Recording di kondisi ekstrem tanpa khawatir
Kelemahannya adalah kontrol manual terbatas dan kualitas audio internal yang biasa saja—selalu gunakan external recorder untuk audio penting.

Stabilizer: Dari Mekanis hingga Motorized
Stabilizer mekanis (seperti sistem counterweight) lebih murah dan tidak butuh baterai, tapi memerlukan latihan dan penyesuaian terus-menerus. Gimbal motorized memberikan stabilisasi otomatis dan lebih mudah digunakan, dengan harga yang semakin terjangkau.
Untuk budget minimal, gimbal smartphone single-axis atau three-axis entry-level sudah cukup untuk menghasilkan footage yang smooth. Teknik “ninja walk” (lutut sedikit ditekuk, langkah pelan) juga membantu meminimalkan guncangan.
Solusi DIY untuk Menghemat Budget
Mounting:
- Gunakan klem besar dengan busa pelindung sebagai phone mount
- Rubber bands untuk mengamankan posisi
- Magic arm atau gorillapod bekas untuk flexibility
Lighting:
- Desk lamp dengan kertas baking sebagai diffuser
- Whiteboard atau styrofoam sebagai reflektor
- Aluminium foil (sisi matte) untuk bounce light
Stabilizer DIY:
- PVC pipe dengan counterweight (batu, washer)
- String stabilizer (tali dengan pemberat)
Setting Up Rig BTS dengan Budget Minimal
Perencanaan Pra-Produksi
Sebelum shooting, buat shot list sederhana: momen setup, interaksi crew, problem-solving, ekspresi candid. Scout lokasi untuk mengetahui kondisi cahaya alami dan ruang gerak. Test setup gear sehari sebelumnya untuk memastikan baterai cukup, memory card kosong, dan semua aksesori berfungsi.
Strategi Multi-Device Setup
Master shot: Gunakan smartphone di tripod untuk coverage lebar dan stabil—ini sebagai safety footage.
Dynamic insert: Action cam atau smartphone kedua di gimbal untuk mengikuti movement dan menangkap detail.
Audio dedicated: Jika memungkinkan, recorder audio terpisah atau minimal mic eksternal di device utama.
Koordinasikan waktu dengan clapping atau signal visual untuk mempermudah sync di editing.
Catatan Penting: Selalu backup footage secara berkala selama shooting. Gunakan multiple memory cards dan jangan tunggu sampai akhir hari untuk transfer data—kehilangan footage BTS bisa sangat merugikan karena momen tersebut tidak bisa diulang.
Teknik Pengambilan Gambar yang Efektif
Framing: Ikuti rule of thirds, berikan headroom yang cukup, jaga horizon lurus. Untuk BTS, sedikit imperfection justru menambah autentisitas—jangan terlalu kaku.
Komposisi: Variasikan shot size—wide untuk konteks, medium untuk interaksi, close-up untuk detail dan emosi. Capture reaction shots dan transisi antar kegiatan.
Momen candid: Jangan selalu announce saat merekam. Beberapa momen terbaik terjadi saat talent tidak sadar atau sedang fokus pada pekerjaan mereka.
Post-Production untuk Meningkatkan Kualitas
Editing dasar: Trim footage untuk pacing yang tepat, buang dead space, fokus pada story arc sederhana (preparation → action → result).
Color correction: Sesuaikan white balance, tambahkan sedikit contrast, dan unified color tone agar footage dari berbagai device terlihat cohesive.
Audio mix: Kurangi noise background, tambahkan musik upbeat yang sesuai mood, dan gunakan sound effect untuk transisi atau emphasis. Selain itu, pelajari juga cara membuat portfolio videografi online untuk menampilkan karya terbaikmu.
Perbandingan dan Checklist Peralatan
Perbandingan Budget vs. Premium Gear
| Tipe Gear | Budget | Premium | Portabilitas | Kualitas Video | Kemudahan |
|---|---|---|---|---|---|
| Smartphone | <5 juta | 15 juta+ | Sangat tinggi | Baik-Sangat Baik | Tinggi |
| Action Cam | 2-4 juta | 8 juta+ | Sangat tinggi | Moderate-Baik | Tinggi |
| Gimbal | 500rb-2 juta | 5-15 juta | Sedang | – | Moderate-Tinggi |
| Mikrofon | 100rb-500rb | 2 juta+ | Tinggi | Sangat penting | Tinggi |
Smartphone vs. Action Cam untuk BTS
- Resolusi: Keduanya support 4K, action cam kadang sampai 5.7K
- Stabilisasi: Smartphone hybrid (OIS+EIS) vs. Action cam EIS agresif
- Battery life: Sekitar 1-2 jam continuous recording untuk keduanya
- Aksesori: Smartphone lebih fleksibel untuk external mic dan app ecosystem

Checklist Praktis
Setup Minimal Esensial
- Smartphone dengan setting video manual (4K/1080p 30fps)
- Tripod atau klem mounting yang stabil
- External microphone (clip-on atau shotgun)
- Sumber cahaya tambahan (LED atau DIY reflector)
- Memory card/storage cukup (minimal 64GB)
- Powerbank atau baterai cadangan
- Aplikasi video recording dengan kontrol manual
Pre-Production
- Shot list sudah disiapkan
- Lokasi sudah di-scout
- Semua device sudah di-charge penuh
- Test recording untuk memastikan setting benar
Saat Shooting
- Clean lens sebelum mulai
- Set white balance manual
- Monitor audio levels secara berkala
- Backup footage setiap break
- Variasikan angle dan shot size
Post-Production
- Sync semua footage dari berbagai device
- Basic color correction
- Audio mixing dan noise reduction
- Tambahkan music dan transition sesuai kebutuhan
Studi Kasus Penggunaan Nyata
Film Indie: Setup Smartphone + Gimbal
Sebuah tim produksi film pendek menggunakan iPhone 12 Pro di gimbal DJI OM4 untuk merekam seluruh proses syuting mereka. Hasilnya sangat engaging karena mereka fokus pada momen candid—diskusi sutradara dengan aktor, trial and error lighting setup, dan reaksi crew saat nonton playback. Total investasi BTS gear di bawah 7 juta, tapi video mereka mendapat 200K views dan membantu funding campaign. Untuk mengembangkan portofolio BTS kamu, simak tips cara membuat portofolio videografi yang menarik.
Content Creator: Action Cam + DIY Mount
Seorang YouTuber tech review memasang GoPro Hero 8 di chest mount buatan sendiri (dari tali dan velcro bekas) untuk merekam process unboxing dan setup workstation. Perspective POV memberikan viewer experience “ikut serta” dalam prosesnya, meningkatkan watch time hingga 40%.
Event Workshop: Multi-Device Coverage
Organizer workshop kreatif menggunakan dua smartphone (satu di tripod untuk wide shot, satu handheld untuk details) dan satu action cam di clamp untuk angle unik. Mereka menangkap energy peserta, interaction, dan key moments dengan investasi total di bawah 2 juta (selain smartphone yang sudah dimiliki).
Tips DIY yang Dapat Diterapkan
Membuat Phone Mount dari Klem
Beli klem besar dari toko bangunan (Rp 20.000-50.000), tambahkan foam atau rubber untuk melindungi phone, dan pasang baut L-bracket. Klem bisa dipasang di meja, kursi, atau edge apapun, memberikan flexibility mounting tanpa tripod.
Stabilizer Sederhana dari PVC
Potong pipa PVC 1/2 inch sepanjang 30-40 cm, pasang T-joint di tengah untuk handle, dan tambahkan coupling di bawah sebagai tempat counterweight (bisa diisi pasir atau washer). Pasang phone mount di atas. Total biaya sekitar Rp 50.000-100.000 untuk stabilizer dasar yang cukup efektif.
Lighting DIY dengan Barang Rumah
Lampu meja biasa dengan bulb LED daylight (5000K-6500K) bisa jadi key light sederhana. Bounce cahaya ke dinding putih atau styrofoam untuk soft lighting. Gunakan kertas baking atau shower curtain putih sebagai diffuser untuk mereduksi harsh shadows.
FAQ
Apa itu BTS Videography dan mengapa penting?
BTS videography adalah merekam proses di balik layar produksi kreatif. Penting karena membangun koneksi autentik dengan audiens, menunjukkan transparansi, dan menciptakan engagement lebih tinggi daripada konten yang hanya menampilkan hasil akhir.
Bagaimana membuat konten BTS menarik dengan budget terbatas?
Fokus pada storytelling dan momen candid, bukan gear mahal. Gunakan smartphone dengan mic eksternal, stabilizer budget, dan pencahayaan alami atau DIY. Editing yang tight dan musik yang sesuai juga sangat meningkatkan kualitas.
Fitur smartphone apa yang paling penting untuk BTS?
Resolusi tinggi (minimal 1080p), stabilisasi gambar, kemampuan kontrol manual melalui aplikasi, kualitas low-light yang baik, dan port untuk mic eksternal.
Apa kelebihan dan kelemahan action cam dalam BTS?
Kelebihan: compact, rugged, wide-angle imersif, mounting flexibility. Kelemahan: kualitas audio internal lemah, kontrol manual terbatas, layar kecil susah untuk framing presisi.
Bagaimana stabilizer meningkatkan kualitas video BTS?
Mengurangi camera shake drastis, membuat footage terlihat lebih smooth dan profesional, terutama saat walking shots atau following action. Ini langsung meninggalkan kesan sinematik.