Selama ini sudah banyak orang mengajarkan cara menggunakan FX3 atau Sony lainnya. Tapi di Indonesia belum terlalu banyak yang mengajarkan cara menggunakan Blackmagic Camera.
Padahal sehari-hari saya menggunakan Blackmagic untuk shooting. Jadi artikel ini saya harap bisa membantu Anda untuk mengerti dan menggunakan Blackmagic secara cepat—tanpa perlu baca manual ratusan halaman atau trial and error berhari-hari.
Kita akan bahas mulai dari menyalakan kamera, memahami UI yang mungkin terlihat overwhelming di awal, sampai setting optimal untuk shooting 6K Blackmagic RAW. Let’s dive in!
Menyalakan Kamera dan Memahami Interface
Power On: Tombol yang Harus Anda Ketahui
Tombol untuk menyalakan kamera ada di atas, ada tulisan “OFF” dan “ON”. Cukup slide ke posisi ON.
Tampilan Pertama: UI yang Terlihat Overwhelming
Tampilan pertama saat Anda menyalakan Blackmagic itu seperti ini—dan mungkin terlihat overwhelming.
Tapi sebenarnya ini sangat-sangat gampang dan mudah untuk dimengerti.
Section Atas: Tools dan Overlays
Mari kita mulai dari tombol apa saja yang ada di dalam layar, dimulai dari section atas.
1. Grid – Untuk Komposisi
Di kiri atas ada yang namanya Grid. Grid ini bisa memudahkan Anda untuk mengatur komposisi menggunakan rule of thirds atau center guidelines.
2. Zebra – Highlight Warning
Di sini ada Zebra atau yang kita kenal sebagai indikator untuk melihat highlight yang overexposed.
Anda bisa pencet ON sehingga kita bisa tahu area mana saja yang highlights-nya overexposed.
3. Focus Assist – Red Peaking
Di kanan ada Focus Assist, di mana kalau Anda nyalakan akan muncul garis-garis berwarna merah.
Garis-garis warna merah ini tidak akan masuk ke hasil rekaman karena ini hanyalah focus assist. Tujuannya untuk membantu Anda mengetahui apakah komposisi sudah fokus atau belum.
Kalau sudah ada garis warna merah, artinya area tersebut sudah fokus.
4. Aspect Ratio Guides
Ada Ratio yang bisa Anda nyalakan dari menu:
- 2.40:1 – Ultra widescreen cinema
- 2.35:1 – Classic anamorphic
- 2:1 – Modern cinema format
- 16:9 – Standard landscape YouTube/TV
- 4:5 – Instagram portrait
Ini memudahkan kita untuk mengetahui komposisi masuk di rasio berapa.
Kalau Anda pakai anamorphic lens, bisa gunakan 2.35:1 atau 2.40:1 tergantung lensa anamorphic Anda squeeze-nya berapa kali (1.33x, 1.5x, atau 2x).
5. Horizon Level (Most Useful!)
Ada Grid atau Horizon. Horizon ini sangat berguna karena memberitahu kita apakah komposisi sudah level atau belum.
- Kalau tidak level, indicator akan naik ke atas atau turun ke bawah
- Kalau sudah level, indicator akan di tengah (hijau)
Horizon ini paling sering saya gunakan karena memberitahu di mana center dan apakah horizon atau plane sudah level atau belum.
6. Crosshair dan Center Dot
Ada juga crosshair kalau Anda suka, tapi saya lebih suka pakai Horizon atau Dot. Dot juga memberitahu kalau center-nya ada di mana.
7. Safety Area (Jarang Dipakai)
Di sebelah kanan ada Safety Area. Anda bisa atur berapa persen (80%, 90%, dll). Tapi ini jarang saya pakai untuk shooting biasa.
8. False Color
Ada False Color untuk exposure monitoring yang lebih akurat dibanding zebra (akan kita bahas lebih detail nanti).
9. Monitor Brightness
Paling kanan adalah brightness dari monitor kamera.
- Indoor shooting: 20-40% (cukup untuk melihat dengan jelas)
- Outdoor shooting: 100% (supaya kelihatan di bawah sinar matahari)
Quick Tip: Clean UI untuk Monitoring
Kalau Anda mau shooting dan tidak mau melihat UI berantakan, Anda bisa swipe ke atas—maka semua overlay akan hilang. Anda bisa lihat preview dengan bersih.
Kalau mau balik lagi, tinggal slide ke bawah.
Exposure Triangle: FPS, Shutter, dan Iris
Ada tiga bagian utama untuk mengatur exposure: FPS, Shutter, dan Iris.
FPS (Frame Rate)
FPS ini Anda bisa atur sesuai yang Anda mau:
- 23.98 / 24 fps – Cinema standard
- 25 fps – PAL standard (Europe, Indonesia)
- 29.97 / 30 fps – NTSC standard (US, Japan)
- 50 fps – Slow motion 2x (dari 25 fps base)
- 60 fps – Slow motion 2x (dari 30 fps base)
Off-Speed Frame Rate (High Frame Rate Mode)
Di sini juga ada Off-Speed Frame Rate. Kalau Anda tidak mau mengubah setting terlalu banyak—misalnya shooting di 25 fps tapi tiba-tiba perlu slow motion—Anda bisa atur off-speed frame rate di sini.
Cara kerjanya:
- Set Project Frame Rate ke 25 fps (base rate)
- Set Off-Speed Frame Rate ke 50 fps (2x slow motion)
- Saat shooting, pencet tombol HFR (High Frame Rate)
- Kamera otomatis switch ke 50 fps
- Pencet lagi untuk balik ke 25 fps
Di UI akan muncul tulisan “50/25” artinya currently shooting di 50 fps tapi base project adalah 25 fps.
Shutter Angle (Bukan Shutter Speed!)
Kalau di Blackmagic, by default menggunakan Shutter Angle—bukan shutter speed seperti Sony atau kamera lainnya.
Kenapa Shutter Angle Lebih Praktis?
Menurut saya ini lebih praktis karena kita tidak perlu setting-setting lagi satu per berapa. Shutter angle akan otomatis membuat shutter yang proper sesuai FPS yang kita pilih.
| FPS | Shutter Angle 180° | Equivalent Shutter Speed |
|---|---|---|
| 24 fps | 180° | 1/48 |
| 25 fps | 180° | 1/50 |
| 30 fps | 180° | 1/60 |
| 50 fps | 180° | 1/100 |
| 60 fps | 180° | 1/120 |
Contoh: Kalau kita menggunakan 25 fps dengan 180° shutter angle, kamera otomatis menggunakan shutter speed 1/50. Begitu juga kalau kita slide ke 50 fps, otomatis jadi 1/100.
Custom Shutter Angle untuk Creative Effects
Anda bisa atur sendiri shutter angle untuk creative purposes:
- 360° – Maximum motion blur (dreamy, surreal look)
- 180° – Standard cinematic motion blur (recommended)
- 90° – Less motion blur (sports, action)
- 45° – Minimal motion blur (very sharp, staccato movement)
Prefer Shutter Speed? Bisa Juga!
Kalau Anda lebih terbiasa menggunakan shutter speed (1/50, 1/100, dll), di Menu Setup Anda bisa pilih Shutter Measurement:
- Shutter Angle (default)
- Shutter Speed (1/48, 1/50, 1/60, dll)
Iris (Aperture / F-Stop)
Iris atau yang biasa kita kenal dengan Aperture atau F-stop.
Iris ini bisa kita atur:
- Touch screen – Tap dan drag
- Dial kanan atas – Physical dial untuk quick adjustment
F paling kecil (wide open, f/1.4, f/1.8) di sebelah kiri. F paling besar (stopped down, f/16, f/22) di sebelah kanan.
Kenapa Section Atas Ini Penting?
Section atas untuk mengatur segala jenis setting yang kita perlu. Yang paling sering kita atur untuk rekam video: F, Shutter Speed, ISO, dan White Balance.
Ini semua sudah tersedia di section atas—itulah kenapa saya suka Blackmagic. UI-nya sangat intuitif dan mudah digunakan. Tidak perlu masuk menu berkali-kali.
ISO: Dual Native ISO Advantage
ISO bisa kita atur lewat touch screen juga.
Apa Itu Dual Native ISO?
Dual Native ISO artinya kamera memiliki dua “base ISO” di mana sensor bekerja paling optimal dengan noise terendah:
- ISO 400 – Base ISO #1 (untuk daylight, well-lit scenes)
- ISO 1250 – Base ISO #2 (untuk low light)
Di luar kedua ISO ini, noise akan meningkat drastis.
Pengalaman Saya dengan ISO di Blackmagic
Selama pengalaman saya shooting dengan Blackmagic, kalau kita menggunakan ISO di atas 1250 atau di luar dual native ISO, akan introduce noise yang terlalu banyak.
Saya sangat sarankan untuk hanya gunakan dua ISO ini:
- ISO 400 – Outdoor, daylight, well-lit indoor
- ISO 1250 – Indoor, low light, night scenes
Keuntungan Blackmagic RAW: Adjustable ISO in Post
Karena kita menggunakan Blackmagic, otomatis kita bisa shoot dalam Blackmagic RAW.
Blackmagic RAW sangat memudahkan kita untuk mengatur ISO di DaVinci Resolve. Kalau ISO kita salah, kita bisa atur lagi di post.
Cara kerja Blackmagic RAW mirip seperti kalau kita shooting foto RAW. Kalau kita ambil foto pakai RAW (bukan JPEG), kita bisa atur warnanya di Lightroom. Ini mirip di video—kalau pakai Blackmagic RAW, kita bisa atur ISO-nya nanti di DaVinci Resolve.
Dan itu salah satu keuntungan besar pakai Blackmagic—kita bisa shooting Blackmagic RAW dengan flexibility yang hampir seperti RAW photography.
White Balance: Auto vs Custom
Di section atas juga ada White Balance. Ada CWB (Custom White Balance) dan AWB (Auto White Balance).
AWB – Cara Kerja yang Berbeda
Berbeda dengan white balance pada kamera lainnya seperti Sony, di sini Auto White Balance tidak mengikuti scene secara real-time.
Jadi sebenarnya tetap fixed. Tapi kalau kita pencet AWB, akan muncul kotak putih di tengah.
Cara Pakai Auto White Balance:
- Pencet AWB
- Kotak putih akan muncul di tengah screen
- Arahkan kotak ke area berwarna putih atau grey card
- Pencet “Update White Balance”
- Blackmagic akan otomatis set white balance sesuai dengan neutral grey di scene
Pro tip: Kalau mau lebih akurat, pakai 18% grey card atau kertas putih.
Manual White Balance
Kalau Anda sudah tahu—misalnya shooting dengan lampu 5600K—Anda bisa atur manual dengan slide di sini.
Di kanan juga ada Tint. Tint ini fungsinya untuk kompensasi green/magenta shift:
- Slide ke kiri – Lebih hijau (green)
- Slide ke kanan – Lebih magenta (pink)
White Balance Presets
Ada juga preset icons:
- ☀️ Sunlight – Daylight (5600K)
- 💡 Incandescent – Tungsten light (3200K)
- ☁️ Cloudy – Overcast (6500K)
- 🌳 Shade – Open shade (7500K)
Section Bawah: Monitoring dan Controls
Histogram
Ada histogram seperti yang ada di kamera pada umumnya.
Cara baca histogram:
- Geser ke kiri – Underexposed (terlalu gelap)
- Terdistribusi merata – Properly exposed
- Geser ke kanan – Overexposed (terlalu terang)
Kalau ada indikator clipping (merah, hijau, biru di ujung kanan histogram), artinya highlight tersebut clipped (blown out, tidak recoverable).
Record Button
Record di Blackmagic bisa:
- Touch di screen – Tap tombol record merah
- Physical button – Tombol record di body kamera
Saat recording, akan ada indikator merah di screen dan tally light merah di depan kamera.
Media Storage (1, 2, 3)
Di sebelah tombol record ada angka 1, 2, 3:
- 1 – No Card (SD Card slot 1 kosong)
- 2 – No Card (CF Card slot 2 kosong)
- 3 – SSD (USB-C SSD tercolok)
Blackmagic Media Storage Options:
- SD Card – Paling accessible tapi sering tidak cukup cepat untuk 6K BRAW
- CFast 2.0 – Fast tapi mahal
- USB-C SSD – RECOMMENDED! Samsung T5/T7, SanDisk Extreme Pro
SSD yang saya pakai: Samsung T5 atau T7 (500GB – 2TB) dengan USB-C cable yang kencang.
Audio Levels
Paling kanan bawah ada audio level meters:
- Channel 1 – Left audio
- Channel 2 – Right audio
Ini stereo audio monitoring. Speaker volume juga bisa diatur di sini.
Target level untuk dialogue: Peak sekitar -12dB, average di -18dB. Jangan sampai hit 0dB (clipping).
Menu System: Record Settings
Setelah Anda tahu cara nyalakan kamera dan membaca UI, saatnya kita setting kamera dengan masuk ke menu.
Menu bisa diakses:
- Tombol kanan atas (menu button)
- Icon tiga garis di bottom-right screen
Record Menu – Codec dan Quality
Menu Record adalah yang paling penting—di sini kita atur codec dan recording format.
Codec Options: Blackmagic RAW vs ProRes
| Codec | Bit Depth | Max Resolution | File Size | Use Case |
|---|---|---|---|---|
| Blackmagic RAW | 12-bit | 6K (6144 x 3456) | Medium-Large | Maximum flexibility, professional work |
| ProRes 422 HQ | 10-bit | 4K DCI (4096 x 2160) | Very Large | Fast turnaround, client previews |
| ProRes 422 | 10-bit | 4K DCI | Large | Standard delivery |
| ProRes Proxy | 10-bit | 4K DCI | Small | Offline editing, client previews |
Recommended Setting untuk Maximum Quality:
- Codec: Blackmagic RAW
- Quality: Constant Bitrate 12:1 atau Constant Quality Q0-Q3
- Resolution: 6K (6144 x 3456)
Ini adalah setting yang maximize potential kamera Anda.
Blackmagic RAW: Constant Bitrate vs Constant Quality
1. Constant Bitrate
Blackmagic akan otomatis mengejar kompresi yang stabil:
- 3:1 – Least compression, largest file (~300 MB/s)
- 5:1 – Medium compression (~200 MB/s)
- 8:1 – Higher compression (~120 MB/s)
- 12:1 – Most compression, smallest file (~81 MB/s)
File size konsisten terlepas dari apa yang di depan kamera.
2. Constant Quality
Kamera akan menyesuaikan kompresi sesuai dengan kompleksitas scene:
- Q0 – Least compression, largest file (best quality)
- Q1, Q2, Q3 – Medium quality
- Q4, Q5 – Most compression, smallest file
Contoh:
- Scene static (interview, talking head) → File kecil
- Scene complex (confetti explosion, action) → File besar
Kapan Pakai Constant Bitrate vs Constant Quality?
Constant Bitrate (12:1):
- Podcast, YouTube content
- Konten sehari-hari
- Predictable file sizes untuk storage planning
Constant Quality (Q0-Q3):
- Commercial, TVC
- Project penting dengan complex grading
- Maximum quality untuk delivery
ProRes: Kapan Menggunakannya?
Sayangnya, kalau di Blackmagic pakai ProRes, Anda cuma bisa shoot maksimal 4K DCI. Dan ini akan crop sensor.
Ini sangat disayangkan karena kita punya Blackmagic 6K. Jadi untuk apa shoot ProRes kalau cuma bisa 4K? Sekalian pakai Blackmagic RAW yang bisa 6K penuh.
Use Case untuk ProRes:
- ProRes Proxy – Untuk photoboard, client previews (file sangat kecil)
- ProRes 422 – Kalau client request ProRes delivery
- ProRes 422 HQ – Kalau butuh fast turnaround tanpa color grading berat
Record Menu Page 2: Dynamic Range dan Frame Rate
Di menu record page 2 (titik kedua), Anda bisa atur:
Dynamic Range
Tersedia tiga opsi:
- Video – Dynamic range paling rendah (Rec.709, contrast tinggi)
- Extended Video – Medium dynamic range
- Film – Dynamic range paling tinggi (Blackmagic Film Gen 5, paling flat)
Project Frame Rate
Sama seperti yang kita atur di UI depan—FPS berapa shooting-nya: 24, 25, 30, 50, 60.
Off-Speed Recording (High Frame Rate)
Set di FPS berapa kalau kita pencet tombol HFR (High Frame Rate) di depan kamera.
Pre-Recording
Options untuk media recording destination:
- SD – SSD (USB-C), bukan SD Card!
- USB – USB-C external drive
- CFast – CFast 2.0 card
- Wireless – Blackmagic Cloud Store (advanced)
Record Menu Page 3: Advanced Settings
Time Lapse
Blackmagic bisa time lapse. Atur:
- Capture every X seconds – Interval antar frame
- Capture every X frames – Alternatif method
Detail (Sharpening)
Ada sharpening dari sensor kamera:
- Off – No in-camera sharpening (RECOMMENDED)
- Low – Subtle sharpening
- Medium – Medium sharpening
- High – Aggressive sharpening
Saya sarankan OFF karena kita tidak mau ada sharpening dari kamera. Kalau mau, sharpening bisa dilakukan di DaVinci atau post-processing dengan lebih control.
If Card Drops Frames
Kalau SSD/SD card tidak kuat (overheat, full, cable loose), kamera akan drop frames. Options:
- Alert – Tetap recording, tapi alert (NOT RECOMMENDED)
- Stop Recording – Stop otomatis (RECOMMENDED)
Kalau drop frame, artinya footage patah-patah dan tidak bisa dipakai. Ngapain di-alert? Mending stop dulu, benerin masalahnya, baru record lagi.
Kalau stop recording, kita juga bisa lihat dari tally light merah di depan kamera—kalau mati, artinya recording stop.
Apply LUT in File
Hasil rekaman mau pakai LUT atau tidak?
- Off – RECOMMENDED (apply LUT di post)
- On – LUT baked into file (tidak reversible)
Lebih baik OFF karena kita bisa apply LUT di DaVinci Resolve nanti dengan full control.
Monitor Menu: Display Settings
Di menu Monitor, kita bisa atur apa saja yang muncul di:
- LCD – LCD kamera
- HDMI – Monitor eksternal
- Viewfinder – Electronic viewfinder (kalau punya)
Setting yang Saya Pakai untuk LCD
Untuk LCD kamera, saya nyalakan:
- ✅ Display 3D LUT – Viewing LUT (NOT baked into file)
- ✅ Zebra – Overexposure warning
- ✅ Focus Assist – Red peaking
- ✅ Frame Guides – Aspect ratio overlays
- ❌ Sisanya OFF untuk clean monitoring
3D LUT vs Apply LUT in File – Apa Bedanya?
- Apply LUT in File (Record Menu) – LUT baked into recording (permanent)
- Display 3D LUT (Monitor Menu) – LUT hanya untuk viewing di LCD (temporary)
Kalau Display 3D LUT ON, Anda bisa preview dengan LUT di LCD, tapi pas export ke komputer tetap flat.
Setting untuk HDMI (Monitor Eksternal)
Untuk HDMI output (monitor client), saya pakai Clean Feed:
- ✅ Clean Feed – No overlays, no UI
- ✅ Display 3D LUT – Supaya client lihat preview dengan warna yang enak
- ❌ Semua overlay OFF
Client tidak perlu lihat zebra, focus assist, atau technical overlays. Mereka cukup lihat clean image dengan LUT yang applied untuk preview.
Audio Menu: Setting Mic Input
Menu Audio sangat simple—cuma ada dua halaman dan tidak perlu banyak diatur.
Audio Input Source
Yang paling sering diatur adalah audio input source:
By default, kamera menggunakan:
- Channel 1: Camera Left (internal mic left)
- Channel 2: Camera Right (internal mic right)
Kalau Pakai External Mic (3.5mm AUX):
Kalau Anda colok clip-on receiver atau external mic via 3.5mm jack:
- Masuk Audio Menu
- Set Channel 1 Source → 3.5mm Left
- Set Channel 2 Source → 3.5mm Right
PENTING: Channel 1 dan Channel 2 harus Left dan Right. Kalau keduanya Left atau keduanya Right, audio jadi mono (bukan stereo).
Audio Gain
Anda bisa atur gain untuk amplify audio:
- Kalau clip-on terlalu kecil → naikkan gain
- Kalau mic terlalu keras → turunkan gain
Target level: Peak sekitar -12dB, jangan sampai clipping di 0dB.
Setup Menu: Camera Configuration
Date and Time
Atur tanggal dan waktu—ini penting karena metadata file akan tercatat sesuai date/time kamera.
Shutter Measurement
Pilih antara:
- Shutter Angle (recommended)
- Shutter Speed (kalau prefer 1/50, 1/100 style)
Flicker Free
Untuk menghilangkan flicker dari artificial lights:
- 50 Hz – Europe, Indonesia, PAL regions
- 60 Hz – US, Japan, NTSC regions
Coba-coba mana yang hilangkan flicker di environment Anda.
Display ND Filters (6K Pro Only)
Blackmagic 6K Pro punya internal ND filters. Anda bisa display dalam format:
- Number – 0.6, 1.2, 1.8 (optical density)
- Stop – 2 stop, 4 stop, 6 stop (RECOMMENDED)
- Fraction – ND 1/4, ND 1/16, ND 1/64
Saya biasanya pakai Stop karena paling intuitive untuk exposure calculation.
Function Buttons (F1, F2, F3)
Anda bisa assign shortcuts ke function buttons:
- F1 – Misalnya Focus Assist ON/OFF
- F2 – Misalnya Display LUT ON/OFF
- F3 – Misalnya Frame Guides toggle
Assign yang paling sering Anda pakai untuk quick access.
Bluetooth
Connect Bluetooth untuk:
- Gimbal control – DJI RS3 Pro bisa trigger record via Bluetooth
- Focus systems – Blackmagic Focus Demand (tidak tersedia di Indonesia)
- Zoom control – Blackmagic Zoom Rocker (tidak tersedia di Indonesia)
Biasanya saya pakai untuk connect RS3 Pro sehingga record button di gimbal bisa remote start/stop recording.
LUTs Menu: Custom Viewing LUTs
Di menu LUTs, Anda bisa upload custom LUTs untuk viewing.
Cara Import LUT:
- Simpan file .cube LUT ke SD card atau SSD
- Masuk LUTs Menu
- Pilih Import
- Select file .cube
- LUT akan tersimpan di kamera
Use case: Kalau streaming atau live production, Anda bisa apply LUT untuk HDMI output sehingga masuk OBS sudah “colored”.
Kesimpulan: Blackmagic itu Simpel!
Yang Paling Penting Saat Shooting
Yang kita benar-benar perlu atur saat shooting:
- FPS – Frame rate (24, 25, 30, 50, 60)
- Shutter Angle – Motion blur (180° recommended)
- Iris – Aperture (f/1.8, f/2.8, f/4, dll)
- ISO – Base ISO (400 atau 1250 only!)
- White Balance – Color temperature (daylight, tungsten, custom)
Semua ini sudah tersedia di UI depan—tidak perlu masuk menu berkali-kali.
Optimal Settings untuk 6K Blackmagic RAW
Recommended Setup untuk Maximum Quality:
Recording:
- Codec: Blackmagic RAW
- Quality: Constant Bitrate 12:1 (sehari-hari) atau Constant Quality Q0-Q3 (commercial)
- Resolution: 6K (6144 x 3456)
- Dynamic Range: Film (Blackmagic Film Gen 5)
- Frame Rate: 25 fps (Indonesia/PAL) atau sesuai kebutuhan
Exposure:
- ISO: 400 (daylight) atau 1250 (low light) ONLY
- Shutter Angle: 180° (standard cinematic motion blur)
- Iris: Sesuai depth of field yang diinginkan
Monitoring:
- LCD: Display 3D LUT, Zebra, Focus Assist, Frame Guides
- HDMI: Clean Feed + Display 3D LUT (untuk client)
Storage:
- Media: USB-C SSD (Samsung T5/T7 recommended)
- Format: exFAT atau HFS+ (Mac)
Yang Tidak Perlu Diatur Lagi
Karena codec Blackmagic RAW dengan resolusi 6K sudah optimal, Anda tidak perlu atur-atur:
- ❌ Codec options (sudah BRAW 12:1)
- ❌ Resolution (sudah 6K full sensor)
- ❌ Detail/Sharpening (OFF, di post saja)
- ❌ LUT baked into file (apply di post)
Focus pada UI depan untuk atur exposure triangle dan white balance—itu sudah cukup untuk 90% shooting scenarios.
Next: Rigging Blackmagic untuk Maksimal Functionality
Di artikel/video selanjutnya, kita akan bahas gimana cara rigging Blackmagic supaya bisa bekerja dengan baik.
Karena tanpa cage, top handle, dan accessories, kamera ini tidak bisa maksimal:
- Baterai internal cuma tahan ~30 menit
- SD card tidak bisa record 6K BRAW dengan reliable
- SSD perlu mounting solution (cage dengan clamp)
- Tidak ada handle untuk handheld shooting
- Limited mounting points untuk accessories
Jadi next video akan cover proper accessories untuk Blackmagic supaya bisa bekerja dengan baik untuk berbagai shooting scenarios.
Tanya Jawab
Kalau masih ada yang bingung atau ada yang kelupaan dibahas di artikel ini, komen di bawah!
Saya akan usahakan jawab semua pertanyaan tentang Blackmagic Camera.
See you in the next one! 🎥
Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman sehari-hari menggunakan Blackmagic Pocket Cinema Camera 6K Pro untuk berbagai jenis project—dari commercial, corporate video, sampai content creation. Semua tips dan recommendations berdasarkan real-world usage.