Cara Pake Kamera Blackmagic Untuk Pemula (Complete Guide BMPCC 6K Pro)

Written by Garry Audie

Table of Contents

Selama ini sudah banyak orang mengajarkan cara menggunakan FX3 atau Sony lainnya. Tapi di Indonesia belum terlalu banyak yang mengajarkan cara menggunakan Blackmagic Camera.

Padahal sehari-hari saya menggunakan Blackmagic untuk shooting. Jadi artikel ini saya harap bisa membantu Anda untuk mengerti dan menggunakan Blackmagic secara cepat—tanpa perlu baca manual ratusan halaman atau trial and error berhari-hari.

Kita akan bahas mulai dari menyalakan kamera, memahami UI yang mungkin terlihat overwhelming di awal, sampai setting optimal untuk shooting 6K Blackmagic RAW. Let’s dive in!


Menyalakan Kamera dan Memahami Interface

Power On: Tombol yang Harus Anda Ketahui

Tombol untuk menyalakan kamera ada di atas, ada tulisan “OFF” dan “ON”. Cukup slide ke posisi ON.

[Insert image: Blackmagic 6K Pro power button location – top of camera body with OFF/ON switch]

Tampilan Pertama: UI yang Terlihat Overwhelming

Tampilan pertama saat Anda menyalakan Blackmagic itu seperti ini—dan mungkin terlihat overwhelming.

Tapi sebenarnya ini sangat-sangat gampang dan mudah untuk dimengerti.

UI Blackmagic dirancang sangat intuitif. Semua yang Anda butuhkan untuk shooting ada di satu layar—tidak perlu masuk-masuk menu berkali-kali seperti kamera lain.
[Insert image: Blackmagic 6K Pro main screen showing full UI with all overlays, indicators, and controls]

Section Atas: Tools dan Overlays

Mari kita mulai dari tombol apa saja yang ada di dalam layar, dimulai dari section atas.

1. Grid – Untuk Komposisi

Di kiri atas ada yang namanya Grid. Grid ini bisa memudahkan Anda untuk mengatur komposisi menggunakan rule of thirds atau center guidelines.

2. Zebra – Highlight Warning

Di sini ada Zebra atau yang kita kenal sebagai indikator untuk melihat highlight yang overexposed.

Anda bisa pencet ON sehingga kita bisa tahu area mana saja yang highlights-nya overexposed.

[Insert image: Zebra pattern display showing overexposed areas with diagonal lines overlay]

3. Focus Assist – Red Peaking

Di kanan ada Focus Assist, di mana kalau Anda nyalakan akan muncul garis-garis berwarna merah.

Garis-garis warna merah ini tidak akan masuk ke hasil rekaman karena ini hanyalah focus assist. Tujuannya untuk membantu Anda mengetahui apakah komposisi sudah fokus atau belum.

Kalau sudah ada garis warna merah, artinya area tersebut sudah fokus.

4. Aspect Ratio Guides

Ada Ratio yang bisa Anda nyalakan dari menu:

  • 2.40:1 – Ultra widescreen cinema
  • 2.35:1 – Classic anamorphic
  • 2:1 – Modern cinema format
  • 16:9 – Standard landscape YouTube/TV
  • 4:5 – Instagram portrait

Ini memudahkan kita untuk mengetahui komposisi masuk di rasio berapa.

Kalau Anda pakai anamorphic lens, bisa gunakan 2.35:1 atau 2.40:1 tergantung lensa anamorphic Anda squeeze-nya berapa kali (1.33x, 1.5x, atau 2x).

[Insert image: Different aspect ratio guides overlaid on same shot – 16:9, 2.35:1, 4:5 comparison]

5. Horizon Level (Most Useful!)

Ada Grid atau Horizon. Horizon ini sangat berguna karena memberitahu kita apakah komposisi sudah level atau belum.

  • Kalau tidak level, indicator akan naik ke atas atau turun ke bawah
  • Kalau sudah level, indicator akan di tengah (hijau)

Horizon ini paling sering saya gunakan karena memberitahu di mana center dan apakah horizon atau plane sudah level atau belum.

6. Crosshair dan Center Dot

Ada juga crosshair kalau Anda suka, tapi saya lebih suka pakai Horizon atau Dot. Dot juga memberitahu kalau center-nya ada di mana.

7. Safety Area (Jarang Dipakai)

Di sebelah kanan ada Safety Area. Anda bisa atur berapa persen (80%, 90%, dll). Tapi ini jarang saya pakai untuk shooting biasa.

8. False Color

Ada False Color untuk exposure monitoring yang lebih akurat dibanding zebra (akan kita bahas lebih detail nanti).

9. Monitor Brightness

Paling kanan adalah brightness dari monitor kamera.

  • Indoor shooting: 20-40% (cukup untuk melihat dengan jelas)
  • Outdoor shooting: 100% (supaya kelihatan di bawah sinar matahari)

Quick Tip: Clean UI untuk Monitoring

Kalau Anda mau shooting dan tidak mau melihat UI berantakan, Anda bisa swipe ke atas—maka semua overlay akan hilang. Anda bisa lihat preview dengan bersih.

Kalau mau balik lagi, tinggal slide ke bawah.


Exposure Triangle: FPS, Shutter, dan Iris

Ada tiga bagian utama untuk mengatur exposure: FPS, Shutter, dan Iris.

[Insert image: Close-up of FPS, Shutter Angle, and Iris controls on Blackmagic UI]

FPS (Frame Rate)

FPS ini Anda bisa atur sesuai yang Anda mau:

  • 23.98 / 24 fps – Cinema standard
  • 25 fps – PAL standard (Europe, Indonesia)
  • 29.97 / 30 fps – NTSC standard (US, Japan)
  • 50 fps – Slow motion 2x (dari 25 fps base)
  • 60 fps – Slow motion 2x (dari 30 fps base)

Off-Speed Frame Rate (High Frame Rate Mode)

Di sini juga ada Off-Speed Frame Rate. Kalau Anda tidak mau mengubah setting terlalu banyak—misalnya shooting di 25 fps tapi tiba-tiba perlu slow motion—Anda bisa atur off-speed frame rate di sini.

Cara kerjanya:

  1. Set Project Frame Rate ke 25 fps (base rate)
  2. Set Off-Speed Frame Rate ke 50 fps (2x slow motion)
  3. Saat shooting, pencet tombol HFR (High Frame Rate)
  4. Kamera otomatis switch ke 50 fps
  5. Pencet lagi untuk balik ke 25 fps

Di UI akan muncul tulisan “50/25” artinya currently shooting di 50 fps tapi base project adalah 25 fps.

Off-Speed Frame Rate sangat berguna untuk run-and-gun shooting di mana Anda perlu quick access ke slow motion tanpa masuk menu.

Shutter Angle (Bukan Shutter Speed!)

Kalau di Blackmagic, by default menggunakan Shutter Angle—bukan shutter speed seperti Sony atau kamera lainnya.

Kenapa Shutter Angle Lebih Praktis?

Menurut saya ini lebih praktis karena kita tidak perlu setting-setting lagi satu per berapa. Shutter angle akan otomatis membuat shutter yang proper sesuai FPS yang kita pilih.

FPS Shutter Angle 180° Equivalent Shutter Speed
24 fps 180° 1/48
25 fps 180° 1/50
30 fps 180° 1/60
50 fps 180° 1/100
60 fps 180° 1/120

Contoh: Kalau kita menggunakan 25 fps dengan 180° shutter angle, kamera otomatis menggunakan shutter speed 1/50. Begitu juga kalau kita slide ke 50 fps, otomatis jadi 1/100.

Custom Shutter Angle untuk Creative Effects

Anda bisa atur sendiri shutter angle untuk creative purposes:

  • 360° – Maximum motion blur (dreamy, surreal look)
  • 180° – Standard cinematic motion blur (recommended)
  • 90° – Less motion blur (sports, action)
  • 45° – Minimal motion blur (very sharp, staccato movement)

Prefer Shutter Speed? Bisa Juga!

Kalau Anda lebih terbiasa menggunakan shutter speed (1/50, 1/100, dll), di Menu Setup Anda bisa pilih Shutter Measurement:

  • Shutter Angle (default)
  • Shutter Speed (1/48, 1/50, 1/60, dll)
[Insert image: Shutter angle vs shutter speed comparison diagram showing the relationship between degrees and fractions]

Iris (Aperture / F-Stop)

Iris atau yang biasa kita kenal dengan Aperture atau F-stop.

Iris ini bisa kita atur:

  • Touch screen – Tap dan drag
  • Dial kanan atas – Physical dial untuk quick adjustment

F paling kecil (wide open, f/1.4, f/1.8) di sebelah kiri. F paling besar (stopped down, f/16, f/22) di sebelah kanan.

Kenapa Section Atas Ini Penting?

Section atas untuk mengatur segala jenis setting yang kita perlu. Yang paling sering kita atur untuk rekam video: F, Shutter Speed, ISO, dan White Balance.

Ini semua sudah tersedia di section atas—itulah kenapa saya suka Blackmagic. UI-nya sangat intuitif dan mudah digunakan. Tidak perlu masuk menu berkali-kali.


ISO: Dual Native ISO Advantage

ISO bisa kita atur lewat touch screen juga.

Keep in mind: Blackmagic punya Dual Native ISO—hanya ada di ISO 400 dan ISO 1250.

Apa Itu Dual Native ISO?

Dual Native ISO artinya kamera memiliki dua “base ISO” di mana sensor bekerja paling optimal dengan noise terendah:

  • ISO 400 – Base ISO #1 (untuk daylight, well-lit scenes)
  • ISO 1250 – Base ISO #2 (untuk low light)

Di luar kedua ISO ini, noise akan meningkat drastis.

[Insert image: Noise comparison chart showing ISO 400 vs ISO 800 vs ISO 1250 vs ISO 3200 – demonstrating clean dual native ISOs vs noisy intermediate values]

Pengalaman Saya dengan ISO di Blackmagic

Selama pengalaman saya shooting dengan Blackmagic, kalau kita menggunakan ISO di atas 1250 atau di luar dual native ISO, akan introduce noise yang terlalu banyak.

Saya sangat sarankan untuk hanya gunakan dua ISO ini:

  • ISO 400 – Outdoor, daylight, well-lit indoor
  • ISO 1250 – Indoor, low light, night scenes

Keuntungan Blackmagic RAW: Adjustable ISO in Post

Karena kita menggunakan Blackmagic, otomatis kita bisa shoot dalam Blackmagic RAW.

Blackmagic RAW sangat memudahkan kita untuk mengatur ISO di DaVinci Resolve. Kalau ISO kita salah, kita bisa atur lagi di post.

Cara kerja Blackmagic RAW mirip seperti kalau kita shooting foto RAW. Kalau kita ambil foto pakai RAW (bukan JPEG), kita bisa atur warnanya di Lightroom. Ini mirip di video—kalau pakai Blackmagic RAW, kita bisa atur ISO-nya nanti di DaVinci Resolve.

Dan itu salah satu keuntungan besar pakai Blackmagic—kita bisa shooting Blackmagic RAW dengan flexibility yang hampir seperti RAW photography.


White Balance: Auto vs Custom

Di section atas juga ada White Balance. Ada CWB (Custom White Balance) dan AWB (Auto White Balance).

AWB – Cara Kerja yang Berbeda

Berbeda dengan white balance pada kamera lainnya seperti Sony, di sini Auto White Balance tidak mengikuti scene secara real-time.

Jadi sebenarnya tetap fixed. Tapi kalau kita pencet AWB, akan muncul kotak putih di tengah.

[Insert image: Blackmagic Auto White Balance grey card targeting box in center of screen]

Cara Pakai Auto White Balance:

  1. Pencet AWB
  2. Kotak putih akan muncul di tengah screen
  3. Arahkan kotak ke area berwarna putih atau grey card
  4. Pencet “Update White Balance”
  5. Blackmagic akan otomatis set white balance sesuai dengan neutral grey di scene

Pro tip: Kalau mau lebih akurat, pakai 18% grey card atau kertas putih.

Manual White Balance

Kalau Anda sudah tahu—misalnya shooting dengan lampu 5600K—Anda bisa atur manual dengan slide di sini.

Di kanan juga ada Tint. Tint ini fungsinya untuk kompensasi green/magenta shift:

  • Slide ke kiri – Lebih hijau (green)
  • Slide ke kanan – Lebih magenta (pink)

White Balance Presets

Ada juga preset icons:

  • ☀️ Sunlight – Daylight (5600K)
  • 💡 Incandescent – Tungsten light (3200K)
  • ☁️ Cloudy – Overcast (6500K)
  • 🌳 Shade – Open shade (7500K)
[Insert image: White balance preset icons and Kelvin scale with typical lighting scenarios]

Section Bawah: Monitoring dan Controls

Histogram

Ada histogram seperti yang ada di kamera pada umumnya.

Cara baca histogram:

  • Geser ke kiri – Underexposed (terlalu gelap)
  • Terdistribusi merata – Properly exposed
  • Geser ke kanan – Overexposed (terlalu terang)

Kalau ada indikator clipping (merah, hijau, biru di ujung kanan histogram), artinya highlight tersebut clipped (blown out, tidak recoverable).

[Insert image: Three histograms showing underexposed (left), properly exposed (centered), and overexposed (right-clipped) examples]

Record Button

Record di Blackmagic bisa:

  • Touch di screen – Tap tombol record merah
  • Physical button – Tombol record di body kamera

Saat recording, akan ada indikator merah di screen dan tally light merah di depan kamera.

Media Storage (1, 2, 3)

Di sebelah tombol record ada angka 1, 2, 3:

  • 1 – No Card (SD Card slot 1 kosong)
  • 2 – No Card (CF Card slot 2 kosong)
  • 3 – SSD (USB-C SSD tercolok)

Blackmagic Media Storage Options:

  1. SD Card – Paling accessible tapi sering tidak cukup cepat untuk 6K BRAW
  2. CFast 2.0 – Fast tapi mahal
  3. USB-C SSD – RECOMMENDED! Samsung T5/T7, SanDisk Extreme Pro
Saya sangat sarankan menggunakan SSD karena workflow lebih cepat. Setelah selesai shooting, langsung colok ke komputer untuk edit. Plus, SD card jarang yang speed-nya cukup untuk record 6K Blackmagic RAW.

SSD yang saya pakai: Samsung T5 atau T7 (500GB – 2TB) dengan USB-C cable yang kencang.

[Insert image: Samsung T5 SSD connected to Blackmagic 6K Pro via USB-C port location]

Audio Levels

Paling kanan bawah ada audio level meters:

  • Channel 1 – Left audio
  • Channel 2 – Right audio

Ini stereo audio monitoring. Speaker volume juga bisa diatur di sini.

Target level untuk dialogue: Peak sekitar -12dB, average di -18dB. Jangan sampai hit 0dB (clipping).


Menu System: Record Settings

Setelah Anda tahu cara nyalakan kamera dan membaca UI, saatnya kita setting kamera dengan masuk ke menu.

Menu bisa diakses:

  • Tombol kanan atas (menu button)
  • Icon tiga garis di bottom-right screen
[Insert image: Blackmagic menu navigation showing Record, Monitor, Audio, Setup, Presets, and LUTs tabs]

Record Menu – Codec dan Quality

Menu Record adalah yang paling penting—di sini kita atur codec dan recording format.

Codec Options: Blackmagic RAW vs ProRes

Codec Bit Depth Max Resolution File Size Use Case
Blackmagic RAW 12-bit 6K (6144 x 3456) Medium-Large Maximum flexibility, professional work
ProRes 422 HQ 10-bit 4K DCI (4096 x 2160) Very Large Fast turnaround, client previews
ProRes 422 10-bit 4K DCI Large Standard delivery
ProRes Proxy 10-bit 4K DCI Small Offline editing, client previews

Recommended Setting untuk Maximum Quality:

  • Codec: Blackmagic RAW
  • Quality: Constant Bitrate 12:1 atau Constant Quality Q0-Q3
  • Resolution: 6K (6144 x 3456)

Ini adalah setting yang maximize potential kamera Anda.

Blackmagic RAW: Constant Bitrate vs Constant Quality

1. Constant Bitrate

Blackmagic akan otomatis mengejar kompresi yang stabil:

  • 3:1 – Least compression, largest file (~300 MB/s)
  • 5:1 – Medium compression (~200 MB/s)
  • 8:1 – Higher compression (~120 MB/s)
  • 12:1 – Most compression, smallest file (~81 MB/s)

File size konsisten terlepas dari apa yang di depan kamera.

2. Constant Quality

Kamera akan menyesuaikan kompresi sesuai dengan kompleksitas scene:

  • Q0 – Least compression, largest file (best quality)
  • Q1, Q2, Q3 – Medium quality
  • Q4, Q5 – Most compression, smallest file

Contoh:

  • Scene static (interview, talking head) → File kecil
  • Scene complex (confetti explosion, action) → File besar

Kapan Pakai Constant Bitrate vs Constant Quality?

Constant Bitrate (12:1):

  • Podcast, YouTube content
  • Konten sehari-hari
  • Predictable file sizes untuk storage planning

Constant Quality (Q0-Q3):

  • Commercial, TVC
  • Project penting dengan complex grading
  • Maximum quality untuk delivery

ProRes: Kapan Menggunakannya?

Sayangnya, kalau di Blackmagic pakai ProRes, Anda cuma bisa shoot maksimal 4K DCI. Dan ini akan crop sensor.

Ini sangat disayangkan karena kita punya Blackmagic 6K. Jadi untuk apa shoot ProRes kalau cuma bisa 4K? Sekalian pakai Blackmagic RAW yang bisa 6K penuh.

[Insert image: Sensor crop comparison showing 6K full sensor vs 4K DCI cropped area]

Use Case untuk ProRes:

  • ProRes Proxy – Untuk photoboard, client previews (file sangat kecil)
  • ProRes 422 – Kalau client request ProRes delivery
  • ProRes 422 HQ – Kalau butuh fast turnaround tanpa color grading berat

Record Menu Page 2: Dynamic Range dan Frame Rate

Di menu record page 2 (titik kedua), Anda bisa atur:

Dynamic Range

Tersedia tiga opsi:

  • Video – Dynamic range paling rendah (Rec.709, contrast tinggi)
  • Extended Video – Medium dynamic range
  • Film – Dynamic range paling tinggi (Blackmagic Film Gen 5, paling flat)
Biasanya pakai “Film” saja karena ini yang paling flat dan memberikan maximum latitude untuk color grading.

Project Frame Rate

Sama seperti yang kita atur di UI depan—FPS berapa shooting-nya: 24, 25, 30, 50, 60.

Off-Speed Recording (High Frame Rate)

Set di FPS berapa kalau kita pencet tombol HFR (High Frame Rate) di depan kamera.

Pre-Recording

Options untuk media recording destination:

  • SD – SSD (USB-C), bukan SD Card!
  • USB – USB-C external drive
  • CFast – CFast 2.0 card
  • Wireless – Blackmagic Cloud Store (advanced)

Record Menu Page 3: Advanced Settings

Time Lapse

Blackmagic bisa time lapse. Atur:

  • Capture every X seconds – Interval antar frame
  • Capture every X frames – Alternatif method

Detail (Sharpening)

Ada sharpening dari sensor kamera:

  • Off – No in-camera sharpening (RECOMMENDED)
  • Low – Subtle sharpening
  • Medium – Medium sharpening
  • High – Aggressive sharpening

Saya sarankan OFF karena kita tidak mau ada sharpening dari kamera. Kalau mau, sharpening bisa dilakukan di DaVinci atau post-processing dengan lebih control.

If Card Drops Frames

Kalau SSD/SD card tidak kuat (overheat, full, cable loose), kamera akan drop frames. Options:

  • Alert – Tetap recording, tapi alert (NOT RECOMMENDED)
  • Stop Recording – Stop otomatis (RECOMMENDED)

Kalau drop frame, artinya footage patah-patah dan tidak bisa dipakai. Ngapain di-alert? Mending stop dulu, benerin masalahnya, baru record lagi.

Kalau stop recording, kita juga bisa lihat dari tally light merah di depan kamera—kalau mati, artinya recording stop.

Apply LUT in File

Hasil rekaman mau pakai LUT atau tidak?

  • Off – RECOMMENDED (apply LUT di post)
  • On – LUT baked into file (tidak reversible)

Lebih baik OFF karena kita bisa apply LUT di DaVinci Resolve nanti dengan full control.


Monitor Menu: Display Settings

Di menu Monitor, kita bisa atur apa saja yang muncul di:

  • LCD – LCD kamera
  • HDMI – Monitor eksternal
  • Viewfinder – Electronic viewfinder (kalau punya)
[Insert image: Monitor menu settings showing LCD vs HDMI output configuration options]

Setting yang Saya Pakai untuk LCD

Untuk LCD kamera, saya nyalakan:

  • Display 3D LUT – Viewing LUT (NOT baked into file)
  • Zebra – Overexposure warning
  • Focus Assist – Red peaking
  • Frame Guides – Aspect ratio overlays
  • ❌ Sisanya OFF untuk clean monitoring

3D LUT vs Apply LUT in File – Apa Bedanya?

  • Apply LUT in File (Record Menu) – LUT baked into recording (permanent)
  • Display 3D LUT (Monitor Menu) – LUT hanya untuk viewing di LCD (temporary)

Kalau Display 3D LUT ON, Anda bisa preview dengan LUT di LCD, tapi pas export ke komputer tetap flat.

Setting untuk HDMI (Monitor Eksternal)

Untuk HDMI output (monitor client), saya pakai Clean Feed:

  • Clean Feed – No overlays, no UI
  • Display 3D LUT – Supaya client lihat preview dengan warna yang enak
  • ❌ Semua overlay OFF

Client tidak perlu lihat zebra, focus assist, atau technical overlays. Mereka cukup lihat clean image dengan LUT yang applied untuk preview.


Audio Menu: Setting Mic Input

Menu Audio sangat simple—cuma ada dua halaman dan tidak perlu banyak diatur.

[Insert image: Audio menu showing Channel 1 and Channel 2 source selection with gain controls]

Audio Input Source

Yang paling sering diatur adalah audio input source:

By default, kamera menggunakan:

  • Channel 1: Camera Left (internal mic left)
  • Channel 2: Camera Right (internal mic right)

Kalau Pakai External Mic (3.5mm AUX):

Kalau Anda colok clip-on receiver atau external mic via 3.5mm jack:

  1. Masuk Audio Menu
  2. Set Channel 1 Source3.5mm Left
  3. Set Channel 2 Source3.5mm Right

PENTING: Channel 1 dan Channel 2 harus Left dan Right. Kalau keduanya Left atau keduanya Right, audio jadi mono (bukan stereo).

Audio Gain

Anda bisa atur gain untuk amplify audio:

  • Kalau clip-on terlalu kecil → naikkan gain
  • Kalau mic terlalu keras → turunkan gain

Target level: Peak sekitar -12dB, jangan sampai clipping di 0dB.


Setup Menu: Camera Configuration

Date and Time

Atur tanggal dan waktu—ini penting karena metadata file akan tercatat sesuai date/time kamera.

Shutter Measurement

Pilih antara:

  • Shutter Angle (recommended)
  • Shutter Speed (kalau prefer 1/50, 1/100 style)

Flicker Free

Untuk menghilangkan flicker dari artificial lights:

  • 50 Hz – Europe, Indonesia, PAL regions
  • 60 Hz – US, Japan, NTSC regions

Coba-coba mana yang hilangkan flicker di environment Anda.

Display ND Filters (6K Pro Only)

Blackmagic 6K Pro punya internal ND filters. Anda bisa display dalam format:

  • Number – 0.6, 1.2, 1.8 (optical density)
  • Stop – 2 stop, 4 stop, 6 stop (RECOMMENDED)
  • Fraction – ND 1/4, ND 1/16, ND 1/64

Saya biasanya pakai Stop karena paling intuitive untuk exposure calculation.

[Insert image: Internal ND filter dial showing Clear, 2-stop, 4-stop, 6-stop positions]

Function Buttons (F1, F2, F3)

Anda bisa assign shortcuts ke function buttons:

  • F1 – Misalnya Focus Assist ON/OFF
  • F2 – Misalnya Display LUT ON/OFF
  • F3 – Misalnya Frame Guides toggle

Assign yang paling sering Anda pakai untuk quick access.

Bluetooth

Connect Bluetooth untuk:

  • Gimbal control – DJI RS3 Pro bisa trigger record via Bluetooth
  • Focus systems – Blackmagic Focus Demand (tidak tersedia di Indonesia)
  • Zoom control – Blackmagic Zoom Rocker (tidak tersedia di Indonesia)

Biasanya saya pakai untuk connect RS3 Pro sehingga record button di gimbal bisa remote start/stop recording.


LUTs Menu: Custom Viewing LUTs

Di menu LUTs, Anda bisa upload custom LUTs untuk viewing.

Cara Import LUT:

  1. Simpan file .cube LUT ke SD card atau SSD
  2. Masuk LUTs Menu
  3. Pilih Import
  4. Select file .cube
  5. LUT akan tersimpan di kamera

Use case: Kalau streaming atau live production, Anda bisa apply LUT untuk HDMI output sehingga masuk OBS sudah “colored”.

[Insert image: LUTs menu showing imported custom LUTs list with preview thumbnails]

Kesimpulan: Blackmagic itu Simpel!

Pakai Blackmagic itu sebenarnya lumayan simpel karena tidak terlalu banyak yang perlu diatur—tidak seperti kamera Sony yang bisa sangat kompleks dengan ratusan menu options.

Yang Paling Penting Saat Shooting

Yang kita benar-benar perlu atur saat shooting:

  1. FPS – Frame rate (24, 25, 30, 50, 60)
  2. Shutter Angle – Motion blur (180° recommended)
  3. Iris – Aperture (f/1.8, f/2.8, f/4, dll)
  4. ISO – Base ISO (400 atau 1250 only!)
  5. White Balance – Color temperature (daylight, tungsten, custom)

Semua ini sudah tersedia di UI depan—tidak perlu masuk menu berkali-kali.

Optimal Settings untuk 6K Blackmagic RAW

Recommended Setup untuk Maximum Quality:

Recording:

  • Codec: Blackmagic RAW
  • Quality: Constant Bitrate 12:1 (sehari-hari) atau Constant Quality Q0-Q3 (commercial)
  • Resolution: 6K (6144 x 3456)
  • Dynamic Range: Film (Blackmagic Film Gen 5)
  • Frame Rate: 25 fps (Indonesia/PAL) atau sesuai kebutuhan

Exposure:

  • ISO: 400 (daylight) atau 1250 (low light) ONLY
  • Shutter Angle: 180° (standard cinematic motion blur)
  • Iris: Sesuai depth of field yang diinginkan

Monitoring:

  • LCD: Display 3D LUT, Zebra, Focus Assist, Frame Guides
  • HDMI: Clean Feed + Display 3D LUT (untuk client)

Storage:

  • Media: USB-C SSD (Samsung T5/T7 recommended)
  • Format: exFAT atau HFS+ (Mac)

Yang Tidak Perlu Diatur Lagi

Karena codec Blackmagic RAW dengan resolusi 6K sudah optimal, Anda tidak perlu atur-atur:

  • ❌ Codec options (sudah BRAW 12:1)
  • ❌ Resolution (sudah 6K full sensor)
  • ❌ Detail/Sharpening (OFF, di post saja)
  • ❌ LUT baked into file (apply di post)

Focus pada UI depan untuk atur exposure triangle dan white balance—itu sudah cukup untuk 90% shooting scenarios.


Next: Rigging Blackmagic untuk Maksimal Functionality

Di artikel/video selanjutnya, kita akan bahas gimana cara rigging Blackmagic supaya bisa bekerja dengan baik.

Karena tanpa cage, top handle, dan accessories, kamera ini tidak bisa maksimal:

  • Baterai internal cuma tahan ~30 menit
  • SD card tidak bisa record 6K BRAW dengan reliable
  • SSD perlu mounting solution (cage dengan clamp)
  • Tidak ada handle untuk handheld shooting
  • Limited mounting points untuk accessories

Jadi next video akan cover proper accessories untuk Blackmagic supaya bisa bekerja dengan baik untuk berbagai shooting scenarios.

[Insert image: Fully rigged Blackmagic 6K Pro with cage, top handle, V-mount battery, SSD mount, follow focus, matte box]

Tanya Jawab

Kalau masih ada yang bingung atau ada yang kelupaan dibahas di artikel ini, komen di bawah!

Saya akan usahakan jawab semua pertanyaan tentang Blackmagic Camera.

See you in the next one! 🎥


Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman sehari-hari menggunakan Blackmagic Pocket Cinema Camera 6K Pro untuk berbagai jenis project—dari commercial, corporate video, sampai content creation. Semua tips dan recommendations berdasarkan real-world usage.

Related Ideas

Don't forget to share this post!

0

Subtotal