Halo semuanya, nama saya Gary dan di artikel ini saya akan sharing gimana caranya Anda bisa dapat klien pertama.
Sebenarnya tidak cuma klien video, tapi bisa untuk:
- Klien desain
- Klien freelance apapun
- Logo designer
- Creative freelancer lainnya
Personal Story: Klien Pertama Saya (Rp 5 Juta untuk Video Paskah)
Saya mulai video sudah dari tahun 2016. Waktu SMA, saya sering:
- Ikut lomba-lomba film
- Joki tugas orang (video projects)
- Mewakili sekolah untuk kompetisi film
Dan keterusan sampai sekarang saya punya karir di videografi yang lumayan kuat.
Bagaimana Saya Dapat Klien Pertama?
Klien pertama saya adalah kakak kelas untuk membuat video Paskah untuk gereja.
Kenapa Kakak Kelas Ini Kontak Saya?
Kakak kelas ini tahu saya karena saya terkenal sering ikut lomba film dan mewakili sekolah.
Mungkin film saya dibilang keren—saya tidak tahu. Tapi karena itu, saya jadi terkenal dan kakak kelas ini bisa contact saya untuk bikin video.
Berapa Saya Charge?
Rp 5 juta.
Angka dapat dari mana? Sebenarnya ngasal. Karena saya kira-kira aja: “Saya pengen dapat berapa sih sebulan untuk makan?”
Tapi Anda Mungkin Tidak Punya Keuntungan yang Sama
Teman-teman di sini mungkin tidak punya kesempatan yang sama:
- ❌ Tidak terkenal bikin video
- ❌ Baru mulai sekarang (setelah lulus sekolah)
- ❌ Tidak punya reputation dari kompetisi atau sekolah
- ❌ Zero portfolio
Jadi bagaimana? Salah satu caranya adalah: MINTA.
Strategi 1: Minta Teman (Free Projects untuk Portfolio)
How It Works
Pertama, Anda minta teman paling dekat:
- Mungkin teman Anda ada yang punya bisnis kecil-kecilan
- Punya online shop
- Punya kafe
- Punya apapun yang butuh video/desain
Anda minta untuk bikinin video GRATIS dulu karena Anda tidak punya portfolio.
Benefit dari Strategi Ini
- Portfolio building – Dapat contoh sample work
- Skill development – Mengasah skill dan expertise agar lebih kredibel
- Referral potential – Teman bisa refer ke teman mereka yang sedang butuh
- Zero pressure – No client expectations karena gratis
- Creative freedom – Bisa eksperimen dan bikin “project idealis”
Real Case Study: Kafe Teman → Company Profile Pabrik Sambal
Pengalaman saya: Saya punya portfolio yang sangat sedikit dulu.
What I Did:
- Saya membantu salah satu teman yang punya kafe
- Saya bilang: “Saya pengen coba bikin yang keren-kerenan” (project idealis)
- Saya bikin sekeren mungkin yang saya bisa
- Dilakukan secara GRATIS
Unexpected Result:
Ternyata uniknya, supplier sambal dari kafe ini nanya ke teman saya:
“Eh, ini bikin videonya di mana? Saya pengen dong buat company profile pabrik sambal saya.”
Dari project gratis itu berbuah hasil: Saya mendapatkan klien kedua yaitu company profile pabrik sambal!
Key Lesson dari Strategy Ini:
- ✅ Tidak ada salahnya bantu teman
- ✅ Dapat asah skill
- ✅ Dapat portfolio
- ✅ Kalau video Anda benar-benar bagus, pasti orang akan datang
Formula: Free quality work → Visibility → Organic referrals → Paid clients
| Stage | Action | Output |
|---|---|---|
| Week 1-2 | Identify 3-5 teman dengan bisnis kecil | List of potential free projects |
| Week 3-4 | Pitch free project (emphasize mutual benefit) | 1-2 confirmed projects |
| Week 5-8 | Execute projects (bikin sekeren mungkin) | 2-3 strong portfolio pieces |
| Week 9+ | Share work, ask for testimonials & referrals | Social proof + potential leads |
Strategi 2: Cold Reach Out (DM, Email, Join Communities)
Apa Itu Cold Reach Out?
Cold reach out bisa dalam banyak bentuk:
- Cold email
- Cold DM (Instagram, LinkedIn, Twitter)
- Cold call / WhatsApp
- Join communities (Facebook groups, club apps)
Metode 1: Cold DM di Instagram
How to identify targets:
Biasanya kalau di Instagram, bio-nya ada mention brand mereka sendiri. Anda coba tawarin service Anda.
Template Cold DM:
Subject: [Nama], quick question about [Brand Name]’s content
Message:
Hi [Nama],
Saya lihat [Brand Name] punya produk yang sangat menarik di [specific observation tentang bisnis mereka].
Saya freelance videographer yang fokus di [niche – contoh: product videos untuk UMKM]. Ini beberapa contoh work saya: [portfolio link]
Kalau [Brand Name] sedang butuh konten video untuk [specific use case – social media/e-commerce/ads], saya bisa bantu. Bahkan kalau mau, saya bisa bikinin 1 konsep video gratis dulu—no strings attached.
Interested untuk diskusi lebih lanjut?
Best,
[Nama Anda]
Metode 2: Join Communities (Offline Networking)
Anda bisa masuk Facebook grup atau join komunitas hobi:
Contoh Real: Mozia Loop (Komunitas Sepeda di BSD)
Kalau Anda tahu di BSD ada komunitas sepeda namanya Mozia Loop. Kalau tidak salah setiap pagi mereka sepedaan di sekitar Mozia BSD.
Strategy:
- Cari komunitas seperti itu (sepeda, padel, golf, running, etc.)
- Join komunitas (keluar modal sedikit untuk join activities – contoh: main padel)
- Kenal-kenalan dengan members
- Masuk grup WhatsApp/Telegram mereka
- Bawa kamera saat activities
- Foto-fotoin atau videoin activities
- Share ke grup (provide value first!)
- Bikin video yang keren untuk komunitas
Siapa tahu dari situ ada salah satu orang yang tertarik, bisa kenalan, dan bisa bikin project bareng.
Komunitas yang Bisa Dicoba:
| Komunitas | Where to Find | Investment Needed | Target Demographic |
|---|---|---|---|
| Sepeda (Cycling) | Facebook groups, Strava clubs | Rp 0 (sudah punya bike) | Professionals, entrepreneurs |
| Padel | Club apps (Playtomic, etc.) | Rp 100-200rb per session | Upper-middle class, business owners |
| Golf | Golf clubs, corporate leagues | Rp 500rb-2 juta (membership) | High-net-worth individuals, C-level |
| Running Clubs | Meetup, Strava, local clubs | Rp 0-50rb | Diverse, health-conscious professionals |
| Photography Clubs | Facebook, Instagram communities | Rp 0 | Fellow creatives (potential collaborators) |
Reality Check: Cold Reach Out Memang Lama
Cold reach out seperti itu memang LAMA prosesnya, karena tidak semua orang “in the market” untuk spend duit bikin video sama Anda. Dan itu tidak apa-apa—karena menurut saya pasti tetap ada 10% atau bahkan 1% orang yang sedang butuh.
Metode Advanced: Cold Email dengan Data (Technical Approach)
Kalau yang gampang itu cold reach out seperti masuk grup padel atau sepeda tadi. Yang lebih pakai data dan lebih technical, Anda bisa coba pakai cold email.
Apa Itu Cold Email?
Cold email adalah Anda blast email yang isinya offering Anda, lalu Anda blast ke work email yang ada di database.
Tools yang Dibutuhkan:
- Clay (untuk lead sourcing & data enrichment) – ~Rp 2 juta per bulan
- Smartlead atau Mailchimp (untuk email blasting) – Berbayar
Step-by-Step: Cold Email Campaign Setup
Step 1: Lead Sourcing dengan Clay
Clay adalah tools berbayar (~Rp 2 juta per bulan) untuk lead sourcing work email orang yang masih aktif.
Features:
- Data waterfall system – Bersihin data mana email yang masih active
- Company filtering – Sort by company size, industry, location
- Role targeting – Target specific positions (CMO, Brand Manager, etc.)
Step 2: Filter dan Targeting
Anda bisa sortir dulu:
- Berapa besar perusahaannya (10-50 employees, 50-200, 200+)
- Industry-nya apa (pertanian, F&B, fashion, tech, dll.)
- Target role (CMO, Brand Manager, Marketing Manager)
Example targeting:
- Industry: Agriculture
- Company size: 50-200 employees
- Target: Chief Marketing Officer atau Brand Manager
- Purpose: Mau bikin company profile untuk agrikultur
Step 3: Data Cleaning dengan Waterfall
Setelah filter, akan muncul banyak orang dan ini akan dilakukan data waterfall oleh Clay:
- Bersihin data mana email yang masih nyala
- Mana yang sudah tidak active
- Verify deliverability
Kenapa penting? Kalau Anda blast email dan ternyata email-nya sudah mati, Anda akan di-flag oleh email provider. Data harus se-clean mungkin dan sebanyak mungkin email yang masih aktif.
Step 4: Blast dengan Smartlead / Mailchimp
Setelah dapat clean data, Anda bisa blast pakai:
- Smartlead (recommended untuk cold email)
- Mailchimp (yang biasa orang tahu)
Ini juga berbayar lagi. Jadi cold email memang lumayan mahal—biaya lumayan besar. Tapi Anda jadi punya data yang lebih aktual dan bisa analyze offering Anda menarik atau tidak.
Cold Email Offering Examples
Offering 1: Konsep Video Gratis (Target: Brand Manager)
Why this works:
Brand managers yang perlu bikin TVC seringkali lack of resource di internal perusahaan untuk konsep yang menarik. Mereka mencari production house atau agency yang bisa bikinin konsep.
Kalau konsep menarik dan budget cocok, baru bikin.
Email template:
Subject: Free TVC concept for [Brand Name] – no strings attached
Body:
Hi [Name],
I noticed [Brand Name] recently launched
I’m a freelance creative director specializing in TVC concepts for [industry]. I’d love to create a FREE concept deck for [Brand Name]’s next campaign—no commitment, no pitch meeting required.
Here’s my portfolio: [link]
If the concept resonates and budget aligns, we can discuss production. If not, no hard feelings—it’s yours to keep.
Interested? Just reply “yes” and I’ll send over the concept by [date].
Best,
[Your Name]
Cold Email Analytics & Optimization
Setelah Anda coba offering, nanti di analytics cold email akan keluar data:
- Berapa orang yang dapat email (delivery rate)
- Berapa orang yang open (open rate)
- Berapa orang yang reply (reply rate)
- Berapa orang yang mark spam
Anda bisa pakai data itu untuk decision making apakah offering ini menarik atau tidak.
Benchmark dari Pengalaman Saya:
| Metric | My Results | What It Means |
|---|---|---|
| Open Rate | 60-80% | ✅ Subject line menarik, email setup OK (tidak masuk spam) |
| Reply Rate | 3-5% | ⚠️ Sangat kecil, tapi NORMAL untuk cold email |
| Conversion Rate | 1% | Dari 100 emails, ~1 orang jadi klien |
Sales Is a Numbers Game
Ini balik ke yang tadi saya bilang: Cold reach out itu walaupun Anda masuk grup padel, grup golf, grup apapun—pasti ada segelintir orang yang tertarik. Sebenarnya 3-5% itu mungkin, atau bahkan kalau lebih kecil lagi mungkin 1%. Tapi dari 100, mungkin ada 1 orang—lumayan kan?
Dan ini sebenarnya permainan sales: Sales is a numbers game.
Jadi:
- Semakin banyak Anda melakukan
- Semakin besar juga proporsi 1% itu
- Semakin banyak orang yang Anda kumpulkan dan tertarik untuk bikin sama Anda
Strategi 3: Mock-Up Projects (Project “Bohongan” untuk Portfolio + Content)
Apa Itu Mock-Up Project?
Mock-up project adalah project yang Anda bikin seolah-olah untuk brand terkenal, padahal sebenarnya Anda tidak di-hire oleh mereka.
Purpose:
- Menunjukkan expertise dan style Anda
- Build personal branding
- Create content untuk social media
- Attract potential clients organically
How to Execute Mock-Up Projects
Step 1: Pilih Brand yang Relevant
Criteria:
- Brand yang sesuai niche Anda (kalau focus di fashion, pilih fashion brands)
- Brand yang aspirational (Nike, Apple, Tesla, dll.)
- Brand dengan strong visual identity (easy to conceptualize)
Step 2: Create Multiple Content Pieces dari 1 Project
Kalau bisa, sekali Anda bikin mock-up project, bikin juga behind-the-scenes, bikin juga hasil jadinya, terus riset-risetnya.
Content yang bisa dibuat dari 1 mock-up project:
- Behind-the-scenes (BTS footage + photos)
- VHS aesthetic version (retro style cut)
- The final result (polished TVC/video)
- “What if [Brand] hires me?” concept breakdown
- Process video (concept → production → post)
- Breakdown tutorial (how you achieved specific shots/effects)
Bikin konten sebanyak-banyaknya dari 1 mock-up project!
Mock-Up Project sebagai Personal Branding Strategy
Mock-up project jadi cara untuk Anda gedein personal branding juga.
Growth trajectory:
- Pertama ada 1,000 orang nonton konten Anda
- Lama-lama naik jadi 3,000
- Terus 5,000
- Sampai 10,000
Hopefully ada segelintir orang—1-3% orang tadi—yang tertarik dan mau menanyakan price list Anda.
Ini Berlaku untuk Semua Creative Fields
Begitu juga dengan project desain.
Saya banyak melihat desainer content creator redesign logo-logo tua dengan cara mereka sendiri:
- “Redesigning the Starbucks logo”
- “What if Apple rebranded in 2024?”
- “Modernizing [old brand] identity”
Ini laku! Konten seperti ini dan akhirnya orang jadi tertarik dan nanya:
“Eh, berapa sih buat bikinin logo saya?”
Designer Examples yang Sukses dengan Mock-Ups:
| Creator | Mock-Up Style | Result |
|---|---|---|
| @juxtopposed | Logo redesigns (Pepsi, Instagram, etc.) | Millions of views, client inquiries |
| @satori_graphics | “Fixing bad logos” series | Viral content, course sales |
| @baugasm | Daily poster challenges | Brand collaborations, speaking gigs |
Mock-Up Project Formula:
- Pick aspirational brand (Nike, Tesla, Apple, Spotify, etc.)
- Create full campaign (concept, storyboard, production)
- Multiply content (6+ pieces dari 1 project)
- Post consistently (schedule releases untuk max engagement)
- Engage with comments (reply, answer questions, build community)
- Include CTA (“Interested in working together? DM me!”)
Strategi 4: Performance-Based Pricing (High Risk, High Reward)
Apa Itu Performance-Based Pricing?
Cara ini sebenarnya banyak dipakai oleh agency branding atau agency iklan. Mereka dibayar sesuai performance.
Konsep dasar:
- Anda ambil zero risk dari client
- Kalau result bagus → Client bayar Anda
- Kalau result jelek → Client tidak perlu bayar
Kenapa Ini Menarik untuk Klien Pertama?
Menurut saya ini cara yang sangat menarik untuk dapat klien pertama.
Context: The Client’s Perspective
Let’s say dengan 3 cara tadi (free projects, cold reach out, mock-ups), Anda sudah punya:
- ✅ Portfolio yang lumayan dari project bohongan
- ✅ Konten sudah jalan
- ✅ Ada segelintir orang yang tertarik dan nanya price list
Tapi…
Biasanya orang takut untuk purchase sama Anda karena Anda mungkin belum punya track record atau credibility yang cukup untuk bikin video. Dan Anda juga tidak berani kasih harga mahal-mahal. Mereka juga tidak mau bayar mahal untuk jasa Anda.
Solution: Hilangkan Resiko Mereka
Anda bisa pakai performance-based pricing.
Caranya gimana? Anda bilang begini:
Pitch untuk Performance-Based Pricing:
“Kalau misalkan saya bikin video dan hasilnya bagus, baru Anda bayar saya. Kalau hasilnya tidak bagus, Anda tidak perlu bayar.”
Atau kalau untuk ads/omzet:
“Kalau omzet Anda naik setelah pakai video + ads saya, baru Anda bayar saya [X]% dari omzet. Kalau omzet tidak naik, Anda cuma perlu bayar biaya iklan saja—jasa saya gratis.”
Kenapa Jarang Orang Pakai Ini?
- Mereka pasti capek (work dulu, bayar belakangan)
- Mereka butuh duit (cashflow issue)
- Mereka tidak mau keluar keringat tanpa jaminan bayaran
Tapi…
Menurut saya, kalau sampai sekarang dan sampai detik ini Anda nonton video ini dan Anda tidak punya klien pertama—berarti Anda belum sejago itu untuk orang percaya sama Anda dan mau bayar Anda.
Kemungkinan:
- Portfolio kurang kuat
- Harga tidak masuk
- Atau mungkin harga terlalu murah (orang jadi tidak percaya)
The Core Problem: Client Risk Aversion
Kebanyakan klien tidak berani bayar karena salah satu faktornya adalah mereka takut sama resiko:
- ❌ Resiko videonya tidak bagus
- ❌ Resiko omzetnya tidak naik
- ❌ Resiko buang duit percuma
Important Distinction:
Walaupun kita sebagai freelance videographer atau desainer, kita memang tidak bertanggung jawab atas omzet-nya karena kita cuma bertanggung jawab atas output video yang kita hasilkan.
Tapi di mata klien itu beda.
Mereka sebenarnya tidak terlalu penting videonya bagus atau tidak (jarang sekali—biasanya cuma brand besar yang peduli aesthetic).
Kalau 80% klien saya itu UMKM dan pengusaha:
- Yang mereka pentingkan: Videonya oke
- Tapi yang PALING PENTING: Omzetnya naik
The Skill Gap Problem
Ini seringkali ada lack of skill.
Banyak freelance videographer tidak bisa menjamin omzet—dan memang bukan scope kita.
Tapi…
Kalau Anda punya skills untuk ads:
- Anda yang urusin produksi video
- Anda punya skill untuk run ads juga
- Anda bisa urusin video dan ditembak ke ads
Otomatis Anda bisa menggunakan performance-based pricing.
Karena secara tidak langsung, Anda bisa challenge: “Kalau omzet naik, baru bayar saya sekian persen dari omzet. Anda cuma perlu bayar biaya iklan saja upfront.”
When Performance-Based Pricing Works
Cara ini bisa dipakai kalau:
- Anda punya skill set lengkap (video production + ads management)
- Anda cukup berani untuk menjanjikan omzet
- Anda berani kerja dulu sebelum dibayar
- Anda cukup PD dengan skill untuk bisa naikkan omzet mereka
Jadi cara ini adalah cara yang AGRESIF untuk mendapatkan klien pertama.
Real Case Study: TikTok Management Agency
Saya pernah pakai cara ini untuk mendapatkan klien pertama TikTok management.
Context:
Dulu production house saya punya service TikTok management, dan:
- ❌ Saya bukan TikToker besar
- ❌ Saya belum pernah punya klien TikTok management
Jadi gimana caranya saya bisa yakinkan orang?
My Performance-Based Pitch:
“Kalau TikTok Anda tidak naik ke 10,000 followers dalam 2 bulan, Anda tidak perlu bayar saya.
Tapi kalau KPI tercapai (10,000 followers) dan omzet Anda naik, saya dapat [X]% dari omzet Anda.”
Result: Ini cukup agresif, tapi berhasil! Saya pengen banget waktu itu punya TikTok management agency.
Performance-Based Pricing Structure Options
| Model | How It Works | Best For |
|---|---|---|
| Revenue Share | X% dari increase in revenue | E-commerce, product businesses |
| CPA (Cost Per Acquisition) | Rp X per customer acquired | Service businesses, lead generation |
| Milestone-Based | Payment unlocked setelah hit KPI (10K followers, 1M views, dll.) | Social media growth, brand awareness campaigns |
| Hybrid (Base + Performance) | Small base fee + performance bonus | Balanced risk approach |
Strategi 5: Networking dengan Agency Owners + Freelance Platforms
Networking yang SALAH vs BENAR
❌ Networking yang SALAH:
Networking dengan kolega kerja (sesama videographer, sesama desainer). Sorry, tapi kolega kerja itu sebenarnya KOMPETITOR Anda juga.
Contoh:
- Anda videographer
- Teman Anda juga videographer
- Ada project datang
- Otomatis ada conflict of interest
Pertanyaan: Networking untuk mencari klien pertama, ngapain Anda networking sama videographer lagi? (Kecuali untuk collaboration atau skill-sharing—itu OK.)
✅ Networking yang BENAR:
Carilah orang yang punya AGENCY, yang punya PRODUCTION HOUSE, yang sudah punya banyak klien dan butuh orang seperti Anda untuk bantu mereka.
Kenapa Agency Owners?
Agency itu:
- Mereka dapat klien (sales & marketing capability)
- Mereka butuh orang untuk eksekusi
- Misalkan Anda videographer → Anda adalah eksekutor
- Agency adalah mediator
- Client datang ke agency karena agency punya resource yang lebih kuat
How Agencies Work:
Biasanya:
- Mereka yang bikin konsep
- Mereka yang sales-in
- Mereka yang marketing-in
Setelah deal project, barulah mereka mencari orang seperti Anda untuk eksekusi project-nya.
Nah, ini orang-orang yang harus Anda dekatin. Orang yang Anda harus coba temenin. Anda coba cari orangnya.
How to Network dengan Agency Owners
Step 1: Identify Target Agencies
Where to find them:
- LinkedIn (search “Creative Agency [your city]”)
- Instagram (creative agencies biasanya active di IG)
- Industry events (marketing conferences, creative meetups)
- Online directories (Clutch, Design Rush, local business listings)
Step 2: Reach Out dengan Value Proposition
Don’t just say: “Hai, saya videographer, ada project?”
Instead, offer specific value:
Pitch Template untuk Agency Owners:
“Hi [Name],
Saya [Your Name], freelance videographer specializing in [niche – contoh: product videos, corporate videos, social media content].
Saya lihat [Agency Name] handle clients seperti [mention their notable clients]. Impressive work!
Saya tahu agency sering butuh additional bandwidth untuk production—especially ketika multiple projects jalan bersamaan.
Saya bisa support [Agency Name] sebagai white-label production partner dengan:
- Fast turnaround (48-72 jam untuk editing)
- Flexible rates (bisa discuss long-term partnership pricing)
- Consistent quality (portfolio: [link])
Boleh main ke kantor untuk kenalan? Saya bawa kopi. ☕
Best,
[Your Name]”
Step 3: Kasih Diskon untuk Partnership
Anda coba kasih diskon kalau ada project.
Why this works:
- Agency profit margins are often tight
- Offering 10-20% partnership discount = instant appeal
- Long-term relationship lebih valuable daripada one-off high-price project
Step 4: Main ke Kantor Mereka
Coba kenalan dan coba main ke kantor mereka.
Benefits of in-person meeting:
- Build trust (face-to-face matters)
- See their workflow and culture
- Easier to discuss collaboration opportunities
- Memorable (they’ll remember you when project comes up)
Alternative: Freelance Platforms (Bekerja Online)
Selain networking, Anda juga bisa coba KERJA.
Kerja di Mana?
Bukan di PH atau agency (kalau Anda punya kesempatan, boleh—tapi menurut saya akan lebih efisien untuk kerja di freelance websites.
Recommended Freelance Platforms
| Platform | Best For | Commission | Target Market |
|---|---|---|---|
| Fastwork | Indonesian market, local clients | ~10-15% | UMKM, local businesses |
| Upwork | International clients, higher rates | 5-20% (sliding scale) | US, EU businesses |
| Fiverr | Quick gigs, package-based work | 20% | Small businesses, individuals |
| Sribulancer | Indonesian freelancers | ~10% | Local market |
| Projects.co.id | Indonesian creative professionals | Varies | Creative industry |
Strategy untuk Freelance Platforms:
- List semua service Anda di semua platform
- Upload portfolio yang bagus (projects dari strategi 1-3 tadi)
- Set competitive pricing (start lower untuk build reviews)
- Write compelling service descriptions
- Get first review (even kalau harus kasih diskon besar)
- Scale prices setelah dapat 5-10 good reviews
Freelance Platform Optimization Tips:
Profile:
- Professional photo (not selfie)
- Clear headline (“Videographer Specializing in Product Videos for E-commerce”)
- Detailed bio dengan specific skills
- Portfolio pieces dengan descriptions
Service Listings:
- Clear deliverables (“You’ll get: 1 min product video + 3 revisions + raw footage”)
- Package options (Basic, Standard, Premium)
- Fast response time (reply dalam 1-2 jam = better ranking)
- Upsells and add-ons (extra revisions, faster delivery, etc.)
Kesimpulan: Recap 5 Strategi untuk Klien Pertama
5 Cara Mendapatkan Klien Pertama:
1. Minta Teman (Free Projects)
- Target: Teman dengan bisnis kecil, online shop, kafe
- Offer: Video/desain gratis untuk portfolio
- Benefit: Portfolio, skill development, potential referrals
- Timeline: 4-8 minggu untuk 2-3 strong pieces
2. Cold Reach Out
- Methods: Cold DM, cold email, join communities (padel, sepeda, golf)
- Tools: Clay (lead sourcing ~Rp 2 juta/bulan), Smartlead (email blasting)
- Reality: 3-5% reply rate, 1% conversion—sales is a numbers game
- Strategy: Provide value first, consistent outreach, track analytics
3. Mock-Up Projects
- Create: “Fake” projects untuk brand terkenal (Nike, Apple, dll.)
- Multiply: 6+ content pieces dari 1 project (BTS, result, breakdown, tutorial)
- Purpose: Personal branding, attract 1-3% interested viewers
- Works for: Video, desain, branding, semua creative fields
4. Performance-Based Pricing
- Concept: Client bayar kalau hasil bagus / omzet naik
- Risk: High (kerja dulu, bayar belakangan)
- Reward: Client zero-risk = easier close untuk klien pertama
- Required: Skill production + ads management, confidence, berani kerja dulu
5. Networking + Freelance Platforms
- RIGHT networking: Agency owners, production house owners (mereka butuh eksekutor)
- WRONG networking: Sesama videographer/desainer (kompetitor)
- Platforms: Fastwork, Upwork, Fiverr, Sribulancer
- Strategy: List everywhere, build reviews, scale pricing
The Fundamental Truth
Itu beberapa cara yang menurut saya bisa membantu untuk mendapatkan klien pertama. Mau itu project video, mau graphic designer, logo designer, atau freelance creative lainnya—Anda bisa coba pakai cara-cara ini.
Dan ini juga cara-cara yang saya pakai secara pribadi untuk mendapatkan klien-klien saya.
Action Plan: Your First 90 Days
Month 1: Build Foundation
- Week 1-2: Execute 2-3 free projects untuk teman (Strategi 1)
- Week 3-4: Create 1 mock-up project + multiply content (Strategi 3)
- Result: 3-5 strong portfolio pieces
Month 2: Scale Outreach
- Week 1-2: Setup freelance platform profiles (Strategi 5)
- Week 3-4: Start cold reach out—join 2-3 communities, send 50-100 cold DMs (Strategi 2)
- Result: First inquiries coming in
Month 3: Close First Paid Client
- Week 1-2: Network dengan 5-10 agency owners (Strategi 5)
- Week 3-4: Offer performance-based pricing kalau stuck (Strategi 4)
- GOAL: Close 1-2 paid clients by end of Month 3
Remember: Sales Is a Numbers Game
| Strategy | Effort Required | Success Rate | Best For |
|---|---|---|---|
| Minta Teman | Low (warm contacts) | 80-90% (they’ll say yes) | Complete beginners, building first portfolio |
| Cold Reach Out | High (volume game) | 1-5% (but scalable) | People willing to hustle, numbers-oriented |
| Mock-Up Projects | Medium (creative work) | 1-3% of viewers (long-term) | Content creators, personal branding focus |
| Performance Pricing | Very High (risky) | Higher close rate (low risk for client) | Skilled + confident, can afford to work first |
| Networking/Platforms | Medium-High | Varies (depends on effort) | Everyone (diversification strategy) |
Final Thoughts
Kalau sampai sekarang Anda belum punya klien pertama:
- ❌ Portfolio mungkin kurang kuat → Execute Strategi 1 & 3
- ❌ Outreach volume kurang → Execute Strategi 2 & 5
- ❌ Trust issue dari potential clients → Execute Strategi 4
The truth: Kalau Anda tidak punya klien pertama, berarti Anda belum sejago itu untuk orang percaya sama Anda dan mau bayar Anda. Dan that’s OK—everyone starts somewhere. Yang penting adalah TAKE ACTION sekarang dengan strategi-strategi ini.
Mulai dari mana? Pick ONE strategy yang paling resonates dengan Anda, execute 100%, lalu scale ke strategi lainnya.
Good luck getting your first client! 🚀
Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman real Gary dalam membangun videography business dari nol—dari klien pertama Rp 5 juta (video Paskah) sampai successful production house dengan recurring clients. Semua strategi tested dan proven untuk get first clients across creative industries.
