Setelah baca artikel ini sampai habis, Anda akan bisa membuat video yang jauh lebih bagus meskipun cuma pakai HP.
Artikel ini untuk teman-teman yang mau bikin:
- Video YouTube
- Reels di social media
- Video untuk bisnis
Dan mau mulai pakai apa yang teman-teman punya—yaitu handphone—tanpa harus beli apa-apa terlebih dahulu.
Apa yang Akan Anda Pelajari
Kita akan belajar:
- Cara setup handphone dengan benar
- Setting kamera manual (FPS, ISO, shutter speed, white balance)
- Cara dapat exposure yang tepat
- Hal-hal yang harus dihindari saat bikin video pakai handphone
- Menjawab pertanyaan umum: Perlu beli gimbal HP? Lensa tambahan? SSD external?
Dan Anda juga akan lihat real-life examples shooting video pakai handphone.
Video ini saya bagi dalam 5 bagian simpel. Langsung aja kita masuk ke part pertama:
Part 1: Gunakan Aplikasi Kamera Third-Party (WAJIB!)
Masalah dengan Aplikasi Kamera Bawaan
Ketika kita record pakai aplikasi kamera bawaan handphone, semuanya itu sudah AUTO, dan kita tidak bisa ngatur apa-apa.
Jadi tergantung scene-nya gelap atau terang, dia akan mengubah sendiri setting kita.
Why This Is a Problem:
Tidak ada videographer professional yang mengubah exposure di tengah-tengah recording. Seperti teman Anda yang jago video—tidak mungkin dia masih pakai auto di kameranya.
Tanda-tanda video “amatir” dari auto exposure:
- ❌ Brightness berubah-ubah saat kamera pan atau tilt
- ❌ Wajah subject tiba-tiba gelap atau terang
- ❌ Warna tidak konsisten antara shot satu dengan lainnya
- ❌ Highlight blown out atau shadow crushed tiba-tiba
Solusi: Aplikasi Kamera Third-Party
Ini kenapa kita harus pakai aplikasi kamera third-party. Dengan ini kita jadi punya kontrol terhadap setting kamera.
Recommended Apps:
Pilihan saya: Blackmagic Camera App
Kenapa saya suka:
- ✅ GRATIS di App Store
- ✅ Interface persis seperti kamera cinema yang saya pakai sehari-hari (Blackmagic 6K Pro)
- ✅ Manual control penuh untuk semua parameters
- ✅ Professional codec options (ProRes, H.265)
- ✅ Clean UI dengan tactile controls
Alternatif lain (Android & iOS):
| App | Platform | Price | Best For |
|---|---|---|---|
| Blackmagic Camera | iOS | Free | Professional workflow, best overall |
| Filmic Pro | iOS, Android | ~$15 | Advanced features, LOG profiles |
| ProCam | iOS | ~$8 | User-friendly, good balance |
| Cinema P3 | iOS | Free | Budget option with manual controls |
| Open Camera | Android | Free | Best free Android option |
Universal Principle:
Jangan khawatir—apapun aplikasinya, atau HP-nya, mau Android atau iPhone, itu sama saja karena setting kamera ini sudah pasti UNIVERSAL.
Part 2: 4 Hal yang Paling Penting untuk Video Cinematic
Jangan takut ribet dulu—tenang, karena saya akan coba jelasin se-simpel mungkin tanpa perlu terlalu teknikal.
1. FPS / Frame Rate (Berapa Frame dalam 1 Detik)
FPS atau Frame Rate Per Second adalah berapa banyak frame di dalam 1 detik video kita.
Jadi kalau kita shoot 24 fps, artinya ada 24 foto yang digabungkan jadi video 1 detik.
Pertanyaan: Buat Apa 24, 30, sama 60? Bedanya Apa?
24 FPS – The Cinema Standard
24 fps itu standar dunia perfilman. Intinya itu.
Kenapa 24? Kalau Anda mau tahu: Jaman dulu, kamera masih pakai film strip, dan itu mahal—jadi mereka harus hemat.
Mereka cari tahu gimana caranya record yang tidak boros film strip tapi tetap bisa ditonton dan tetap terlihat natural gerakannya.
Nah, ditemukan bahwa 23.976 frame per second itu angka yang pas untuk menangkap moving image secara jelas dan motion blur masih terlihat natural di mata—yang mana nanti dibulatkan jadi 24 fps.
30 FPS – TV dan Broadcast Standard
30 fps muncul karena ada perbedaan frekuensi kelistrikan di US dan Eropa.
Karena 2 negara ini yang develop sistem per-TV-an:
- NTSC (US): 60Hz electrical frequency → 30 fps (actually 29.97 fps)
- PAL (Europe): 50Hz electrical frequency → 25 fps
Kalau Anda pernah dengar NTSC dan PAL—ini asal-usulnya.
60 FPS – Slow Motion
Karena kita mostly akan shoot sesuai standar di 24 atau 30 fps, dan timeline editing kita juga berarti di 24 atau 30 fps—jadi buat apa record 60 fps?
Nah, ini kita manfaatkan untuk SLOW MOTION.
Karena 60 fps itu 2x lipat-nya 30 fps, kita jadi bisa pakai footage 60 fps untuk diperlambat 2x lipat atau berarti 50% speed di timeline 30 fps kita.
Pertanyaan: Kalau Gitu Pakai 60 FPS Terus Aja Dong?
Ya benar, tapi menurut saya tidak efisien dan tidak ideal.
Alasan:
- File size jauh lebih besar
- Kamera motret 60 foto cuma untuk 1 detik video
- Otomatis file akan 2.5x lebih besar dibanding 24 fps
- Makan storage HP dengan cepat
- Shutter speed effect
- FPS akan affect shutter speed yang harus dipakai
- Ini akan saya jelasin di poin berikutnya
- Processing power
- HP harus work harder untuk process 60 fps
- Battery drain lebih cepat
- Potential overheating
FRAME RATE (FPS) CHEAT SHEET
24 fps:
- ✅ Ideal untuk cinematic, short film, dan “keren-kerenan”
- ✅ Film aesthetic dengan natural motion blur
- ✅ Smallest file size
- ❌ Dapat terlihat choppy untuk fast action
30 fps:
- ✅ Most realistic looking, ideal untuk social media
- ✅ Instagram officially states Reels harus minimum 30 fps
- ✅ Smooth untuk viewing di mobile devices
- ✅ Good balance antara quality dan file size
60 fps:
- ✅ Untuk video yang banyak gerakannya (vlog, motovlog, POV videos)
- ✅ Untuk dipakai slow motion (2x slower di 30 fps timeline)
- ✅ Hyper-smooth playback
- ❌ Large file sizes
- ❌ Video game aesthetic (terlalu smooth untuk cinematic work)
2. Shutter Speed (Seberapa Cepat Sensor Menangkap Gambar)
Shutter Speed adalah seberapa cepat sensor kamera kita menangkap gambar. Ini ibaratnya seperti kelopak mata.
How Shutter Speed Works:
Contoh: 1/10
- Artinya kamera akan membuka sensor selama 1/10 detik atau 0.1 detik
- Sensor exposed to light untuk waktu yang lama
- Result: More motion blur, brighter image
Contoh: 1/200
- Artinya kamera akan membuka sensor hanya 1/200 detik atau 0.005 detik
- Sensor exposed to light untuk waktu yang sangat singkat
- Result: Less motion blur, sharper image, darker
Semakin besar angkanya (seperti 1/200), artinya semakin cepat dia “kedip”, dan gambar yang ditangkap semakin jelas (tapi juga semakin gelap).
Creative Use: Slow Shutter untuk TikTok Effects
Kalau trend jedag-jedug di TikTok seperti velocity effect—itu pakai shutter speed rendah misalnya di 1/10 untuk create motion blur yang dramatic.
CRITICAL MISTAKE: Jangan Pakai Shutter untuk Adjust Exposure!
The 180° Shutter Rule (WAJIB DIIKUTI!)
Shutter speed itu harus 2x lipat dari FPS yang kita pakai.
Kenapa Harus Begitu?
Karena shutter speed 2x lipat dari frame rate adalah sweet spot di mana gerakan-gerakan di dalam video kita terlihat realistis dan natural (atau biasa disebut dengan motion blur yang proper).
| FPS | Correct Shutter Speed (2x Rule) | Effect |
|---|---|---|
| 24 fps | 1/48 (or 1/50) | Cinematic motion blur |
| 25 fps | 1/50 | Natural motion blur (PAL) |
| 30 fps | 1/60 | Realistic motion blur (NTSC) |
| 60 fps | 1/120 | Clear motion for slow-mo |
| 120 fps | 1/240 | Very clear for extreme slow-mo |
What Happens If You Break This Rule?
Shutter too fast (1/200 at 24 fps):
- ❌ Staccato, choppy movement (video game look)
- ❌ Unnatural, jittery motion
- ❌ Darker image
Shutter too slow (1/24 at 24 fps):
- ❌ Too much motion blur (smearing effect)
- ❌ Dreamy, surreal look (not natural)
- ❌ Brighter image
3. ISO (Brightness Control – The ONLY Way to Adjust Exposure Properly)
Apa Itu ISO?
ISO ini simpelnya: seberapa sensitif sensor kamera kita terhadap cahaya.
- Semakin tinggi ISO → Semakin terang video kita
- Semakin rendah ISO → Semakin gelap video kita
ISO Range dan Trade-offs:
| ISO Range | Brightness | Noise Level | Use Case |
|---|---|---|---|
| 50-100 | Very dark | Clean (no noise) | Bright daylight, studio with lights |
| 200-400 | Dark-medium | Minimal noise | Overcast day, well-lit indoor |
| 800-1600 | Medium-bright | Noticeable noise | Indoor, low light situations |
| 3200+ | Very bright | Heavy noise | Night, very dark environments (avoid if possible) |
ISO Best Practices untuk HP:
- Keep ISO as LOW as possible – Gunakan lighting kalau perlu, jangan naikkan ISO
- Avoid ISO 3200+ – Noise akan sangat terlihat di HP sensor
- Test your phone’s ISO limit – Setiap HP beda threshold-nya
- Better underexposed than noisy – Bisa brighten di post, tapi noise sulit dihilangkan
4. White Balance (Color Temperature Control)
Last but not least adalah white balance. Ini yang mengatur bagaimana warna video di HP kita.
What Is White Balance?
Simpelnya, white balance ini bisa Anda tarik dari biru ke kuning (measured in Kelvin).
Fungsi white balance ini seperti namanya: “keseimbangan putih”—yaitu untuk memastikan bahwa warna putih dalam scene kita terlihat putih, terlepas dari kondisi pencahayaan saat video diambil.
| Kelvin Value | Color Cast | Typical Lighting |
|---|---|---|
| 2500-3200K | Warm/Orange | Tungsten bulbs, candles, sunset |
| 4000-5000K | Neutral/Slightly warm | Fluorescent lights, morning light |
| 5500-5600K | Daylight/Neutral | Midday sun, studio lights, flash |
| 6500-7500K | Cool/Blue | Overcast day, shade, screen light |
Pendapat Saya tentang White Balance
Sebenarnya saya sendiri kalau shooting tidak akan terlalu pentingkan ini karena kalau di professional video, saya punya banyak waktu untuk post-production.
Jadi kuning-biru-nya itu nanti bisa kita atur di editing, sambil color grading.
Recommended Approach:
Option 1: Auto WB (Kalau tidak mau edit)
- Kalau Anda tidak mau edit atau color grading setelah shooting
- Bisa biarin aja white balance-nya di AUTO
- Result cukup acceptable untuk quick social media posts
Option 2: Fixed WB (RECOMMENDED untuk editing)
- Kalau Anda berencana mau edit nanti
- Sepengalaman saya lebih baik samakan semua di 1 angka white balance
- Misalnya: 5600K untuk semua shots
- Nanti saat editing akan jauh lebih gampang samakan warnanya biar nyambung semua
Pro Tip: Consistent WB untuk Multi-Shot Projects
Kalau shooting project dengan multiple shots (contoh: YouTube video, short film), lock WB di satu nilai untuk semua shots.
Benefit:
- Consistency antar shots
- Faster color grading (apply LUT ke semua shots sekaligus)
- Easier matching antara different lighting conditions
Workflow: Shoot everything at 5600K → Color grade di post untuk creative look.
Part 3: Setting Kamera untuk Professional Look
Oke, jadi teman-teman sudah ngerti gimana cara mengatur iPhone atau HP secara manual dan bisa expose video dengan baik.
Tapi ada beberapa setting yang perlu teman-teman tahu agar video terlihat “tidak seperti pakai HP” dan lebih professional lagi.
Ada 4 hal yang penting:
1. Resolusi (Shoot in 4K)
Untuk resolusi, tentunya kita mau pakai resolusi terbaik dari yang HP kita bisa lakukan—kita pakai 4K.
Kenapa 4K, Bukan 1080p?
Benefit 4K:
- Flexibility di editing
- Bisa zoom tanpa quality loss
- Reframing kalau komposisi kurang pas
- Crop untuk different aspect ratios (16:9, 9:16, 1:1, 4:5)
- Future-proofing
- 4K becoming standard untuk viewing
- Content tidak cepat outdated
- Downscale untuk better quality
- Export 4K footage ke 1080p timeline → sharper result
- Better compression resistance
Trade-off:
- ❌ File lebih besar (2-4x dibanding 1080p)
- ❌ More processing power required
- ❌ Battery drain faster
Meskipun file lebih besar, Anda akan jauh lebih fleksibel nanti saat edit—misalnya mau zoom atau framing kurang pas. Karena resolusinya tinggi, jadi tidak akan pecah saat di-zoom.
2. Bitrate (Data dan Color Information)
Bitrate adalah seberapa banyak data per detik yang kamera record.
Recommendation: Setting di paling tinggi (highest available bitrate).
Kenapa?
Semakin tinggi bitrate:
- ✅ Kamera menangkap data dan warna semakin banyak
- ✅ Saat editing, warnanya bisa bagus dan tidak terlihat pecah-pecah atau blown out
- ✅ More detail preserved dalam highlights dan shadows
- ✅ Better color grading flexibility
| Bitrate Level | Quality | File Size | Use Case |
|---|---|---|---|
| Low (8-15 Mbps) | Compressed, banding visible | Small | Quick social media, storage-limited |
| Medium (25-50 Mbps) | Good, minimal artifacts | Medium | Standard YouTube, most use cases |
| High (80-150 Mbps) | Excellent, rich colors | Large | Professional work, color grading |
| ProRes (200-500 Mbps) | Maximum quality | Very large | High-end post-production |
3. Stabilisasi Internal (Matikan!)
Untuk stabilization, saya sarankan untuk MATIKAN saja.
Kenapa Matikan?
Karena namanya HP, pasti punya kekurangan:
- Blur artifacts
- Terutama kalau HP kurang bagus
- Stabilization malah bikin video jadi blur
- Warping effect di edges
- Quality degradation
- Video jadi crop (kehilangan field of view)
- Kualitas turun
Contoh: Action Mode di iPhone
Cara kerja Action Mode:
- iPhone akan pakai kamera 0.5x (ultra-wide) untuk record
- Dia akan crop hasil akhir seakan-akan kita pakai lensa 1x
- Tujuan: Ambil pakai wide biar bisa kompensasi bagian yang goyang-goyang, ambil yang smooth aja di bagian tengah
Masalahnya:
Lensa 0.5x iPhone adalah lensa yang lebih jelek dari 2 lensa lainnya, karena semua manufaktur HP pastinya akan invest paling besar di lensa utama (1x).
Why 0.5x lens is worse:
- Aperture lebih kecil – 0.5x biasanya f/2.4 vs 1x f/1.8 (less light gathering)
- Optics lebih murah – Lower quality glass elements
- Sensor area – Often smaller or shared sensor crop
- Image processing – Not optimized like main lens
Makanya kalau Anda foto pakai 0.5x pasti suka merasa:
- ❌ Lebih gelap
- ❌ Lebih blur/soft
- ❌ Tidak sebagus lensa 1x
Better Alternative:
- ✅ Stabilize di post dengan DaVinci Resolve, Premiere Pro (better quality)
- ✅ Use technique – Proper handheld technique (tuck elbows, walk heel-to-toe)
- ✅ External stabilization – Cheap gimbal kalau really needed (tapi saya personally tidak recommend)
4. Picture Profile / ProRes (Advanced Users)
Dan yang terakhir: ProRes.
Ini untuk Anda yang lebih advanced dan ngerti untuk edit atau color grading di komputer.
Apa Itu ProRes?
Tujuan ProRes: Untuk menangkap gambar dengan bit depth dan color science yang lebih tinggi.
Karena ProRes ini adalah codec atau format video yang ada di kamera-kamera high-end seperti:
- Sony FX3
- Blackmagic Pocket Cinema Camera
- RED cameras
- ARRI Alexa
ProRes Benefits:
| Aspect | H.264/H.265 (Standard) | ProRes |
|---|---|---|
| Bit Depth | 8-bit (limited color info) | 10-bit (rich color info) |
| Compression | Heavy (inter-frame) | Light (intra-frame) |
| Color Grading | Limited flexibility | Massive flexibility |
| File Size | Small (1 min = 200MB) | Huge (1 min = 2-4GB) |
| Editing | CPU intensive | Smooth playback |
Jadi kalau Anda benar-benar mau next level, nyalakan ProRes dan belajar color grading juga di komputer.
When to Use ProRes:
- ✅ Professional client work
- ✅ Extensive color grading planned
- ✅ Have external SSD for recording (storage intensive)
- ✅ Comfortable dengan post-production workflow
When NOT to Use ProRes:
- ❌ Quick social media posts (overkill)
- ❌ Limited storage (fills up extremely fast)
- ❌ Tidak familiar dengan color grading
- ❌ Computer tidak cukup powerful untuk edit ProRes smoothly
Part 4: Kenali Batasan Smartphone (Situasi yang Harus Dihindari)
1. Low Light / Malam Hari (Biggest Weakness)
JANGAN shooting di malam hari atau tempat gelap—karena hasilnya akan noisy dan blur.
Why HP Struggles in Low Light:
- Small sensor size – Less light gathering capability
- Small pixel size – Less photon collection per pixel
- Digital noise – Heavy at ISO 1600+
- Software processing – Aggressive noise reduction creates mushy details
Untuk shooting di malam hari dengan lebih baik, butuh kamera dengan low light performance yang bagus seperti:
- Sony A7S line (A7S III, A7S II)
- Sony FX3, FX6
- Canon R5C, R6 Mark II
- Blackmagic Pocket 6K Pro (dual native ISO)
Solution kalau Harus Shoot Low Light:
- ✅ Bawa portable lighting (Aputure MC, Lume Cube, LED panel)
- ✅ Use available light creatively (streetlights, neon signs, car lights)
- ✅ Shoot near light sources (windows, lamps, practical lights)
- ✅ Embrace grain di post (add film grain to hide digital noise)
2. Blown-Out Highlights (High Contrast Situations)
Hindari jendela terang atau kontras tinggi—karena ini bisa bikin overexposed.
The Problem: Limited Dynamic Range
HP punya dynamic range yang terbatas (~10-11 stops) dibanding dedicated cameras (~13-15 stops).
What this means:
- Kalau ada bright window di background → blown out (pure white, no detail)
- Kalau expose untuk window → subject jadi silhouette (too dark)
- No middle ground yang balance keduanya
Solution:
Pilih angle yang exposure-nya seimbang. Jadi pinter-pinteran kita cari angle saja.
Practical tips:
- Window di belakang kamera, bukan di belakang subject
- Shoot di shade kalau outdoor (under tree, building overhang)
- Diffuse harsh sunlight dengan sheer curtain atau scrim
- Use reflector untuk bounce light ke shadow areas
- Golden hour shooting (1 jam sebelum sunset, 1 jam setelah sunrise) – soft, even light
3. Storage Terbatas (File Size Explosion)
Dan storage yang terbatas.
Pastinya handphone kita juga dipakai untuk sehari-hari dan tidak cuma untuk video. Apalagi setelah ikutin setting-setting tadi:
- 4K resolution
- High bitrate
- ProRes (kalau enable)
Size file pasti meledak!
Example File Sizes (1 Minute of Footage):
| Format | File Size (1 min) | 10 min Video |
|---|---|---|
| 1080p H.264 (low bitrate) | ~100MB | ~1GB |
| 4K H.265 (medium bitrate) | ~200MB | ~2GB |
| 4K H.265 (high bitrate) | ~400MB | ~4GB |
| 4K ProRes 422 | ~2GB | ~20GB |
| 4K ProRes 422 HQ | ~4GB | ~40GB |
Jadi ini nyambung sama pertanyaan seperti: External SSD yang dipakai untuk record konser K-pop—itu untuk apa?
Part 5: Gear Handphone – Apakah Perlu?
1. SSD External (Worth It untuk Serious Work)
Kalau Anda pernah lihat ada orang yang sampai “gigit-gigit” SSD sambil record konser—itu biar iPhone save-nya langsung ke SSD itu.
Benefit SSD External:
- ✅ Unlimited storage saat shooting (tidak khawatir kehabisan space)
- ✅ Tidak makan storage HP dan iCloud
- ✅ ProRes viable – Bisa nyalakan 4K ProRes tanpa worry
- ✅ Faster workflow – Langsung colok SSD ke computer untuk edit
- ✅ Backup security – Footage langsung di external drive
When It’s Worth It:
Menurut saya ini lumayan berguna kalau Anda:
- Berencana bikin video untuk bisnis pakai HP terus
- Shooting long-form content (concerts, events, weddings)
- Using ProRes regularly
- Want professional workflow dengan mobile setup
Recommended SSD:
- Samsung T7 (1TB) – ~2.5 juta (good value)
- SanDisk Extreme Portable (1TB) – ~2.8 juta (rugged)
- Samsung T9 (2TB) – ~5 juta (fastest)
2. Gimbal HP (Tidak Perlu untuk Kebanyakan Orang)
Muncul juga beberapa pertanyaan seperti: “Perlu tidak beli gimbal HP?”
Menurut saya: TIDAK PERLU.
Alasan:
- Jarang video serius pakai HP doang shooting-nya
- Kalau serious work, biasanya pakai dedicated camera
- HP untuk quick content atau BTS
- Tergantung skill tangan
- Bisa se-steady apa Anda handheld?
- Dengan proper technique, handheld bisa cukup smooth
- Stabilization di post
- DaVinci Resolve, Premiere Pro punya excellent stabilization
- Often better result daripada cheap gimbal
- Jarang pakai
- Pasti sekali-sekali doang
- Tidak worth investment untuk occasional use
Exceptions (When Gimbal Makes Sense):
Kalau Anda:
- Bikin video se-stabil mungkin regularly
- Periode waktu lama seperti wedding mau pakai HP doang
- Create walking shots, tracking shots frequently
- Want cinematic camera movements (orbit, dolly zoom effect)
Ya tidak ada salahnya beli gimbal.
Tapi Saran Saya:
Mending pinjam atau sewa dulu untuk test—karena pasti sekali-sekali doang pakai-nya. Kalau beli pun tidak usah yang mahal-mahal.
Budget gimbals yang OK:
- Zhiyun Smooth 5 – ~1.5 juta (good budget option)
- DJI OM 6 – ~1.8 juta (compact, reliable)
- Hohem iSteady V3 – ~2 juta (AI tracking features)
Saya sendiri? Tidak pernah pakai gimbal HP.
3. ND Filter (PENTING untuk Outdoor Shooting)
Yang terakhir adalah ND Filter.
Nah, ini menurut saya yang PENTING karena ND Filter atau “kacamata item” untuk HP kita ini bikin setting kita tidak perlu diacak-acak saat video overexposed.
The Problem Without ND Filter:
Outdoor di bright sunlight:
- Anda sudah set shutter speed 2x dari FPS (proper motion blur)
- ISO sudah di minimum (ISO 50-100)
- Tapi video masih overexposed (terlalu terang)
Pilihan yang salah:
- ❌ Naikkan shutter speed → Motion blur jadi tidak natural
- ❌ Lower ISO below minimum → Tidak bisa (sudah di 50)
Result: Harus korbankan motion blur untuk exposure yang pas.
Solution: ND Filter
Dengan ND filter, setting tidak perlu dikorbankan. Motion blur tetap natural DAN exposure tetap pas.
Cara Kerja ND Filter:
ND (Neutral Density) filter adalah kacamata hitam untuk kamera:
- Mengurangi light yang masuk tanpa mengubah warna
- Allows proper shutter speed maintenance
- Enables shooting wide open (shallow DOF) di bright conditions
| ND Strength | Light Reduction | Use Case |
|---|---|---|
| ND4 (2 stop) | 75% light blocked | Overcast day, light shade |
| ND8 (3 stop) | 87.5% light blocked | Partly cloudy, indirect sun |
| ND16 (4 stop) | 93.75% light blocked | Bright sun, midday |
| ND32 (5 stop) | 96.875% light blocked | Very bright, beach/snow |
Recommended ND Filters untuk HP:
Magnetic clip-on style:
- PolarPro LiteChaser – ~1.5 juta (excellent quality, includes ND8, ND16, ND32)
- Moment ND filters – ~800rb per filter (good optical quality)
- Sandmarc – ~500rb per filter (budget-friendly)
What to buy: Start dengan ND16 (paling versatile untuk outdoor shooting)
Kesimpulan: Checklist untuk Video Cinematic Pakai HP
Before Shooting Checklist:
App dan Settings:
- ✅ Install Blackmagic Camera App (atau third-party manual camera app)
- ✅ Set FPS: 24 fps (cinematic) atau 30 fps (social media)
- ✅ Set Shutter Speed: 2x dari FPS (24fps → 1/50, 30fps → 1/60)
- ✅ ISO: As low as possible (adjust untuk exposure)
- ✅ White Balance: Lock di 5600K (atau auto kalau tidak mau edit)
Camera Settings:
- ✅ Resolution: 4K (flexibility di editing)
- ✅ Bitrate: Highest available
- ✅ Stabilization: OFF (stabilize di post kalau perlu)
- ✅ ProRes: ON kalau serious work + punya SSD external
Situasi yang Dihindari:
- ❌ Low light / malam hari (noisy, blur)
- ❌ Blown-out highlights / high contrast (cari angle yang balanced)
- ❌ Shooting tanpa cek storage (file besar, bisa kehabisan space)
Gear Considerations:
- ✅ SSD External: Worth it kalau serious + sering pakai ProRes
- ⚠️ Gimbal: Tidak perlu untuk most people (pinjam/sewa kalau butuh)
- ✅ ND Filter: PENTING untuk outdoor shooting (start dengan ND16)
Quick Reference Card (Screenshot/Save Ini!):
CINEMATIC HP SHOOTING FORMULA:
FPS: 24 (film) | 30 (social media) | 60 (slow-mo only)
SHUTTER: 2x FPS → 24fps = 1/50 | 30fps = 1/60 | 60fps = 1/120
ISO: As LOW as possible (prioritize lighting over ISO)
WB: 5600K (lock untuk consistency) atau Auto
RESOLUTION: 4K
BITRATE: Maximum
STABILIZATION: OFF
AVOID: Low light | High contrast | Running out of storage
RECOMMENDED GEAR: ND Filter (ND16 untuk start)
Final Thoughts
Gear bukan excuse. HP yang Anda punya sekarang—dengan setting yang proper—sudah cukup untuk bikin video cinematic.
Yang penting:
- Manual control (third-party app)
- Proper exposure (FPS, shutter 2x rule, ISO)
- Consistent settings (lock WB untuk editing)
- Good lighting (avoid low light, manage contrast)
- Know your limits (work within HP capabilities)
Master these fundamentals, dan Anda bisa bikin video yang indistinguishable dari dedicated camera—at least untuk social media dan YouTube.
Pertanyaan?
Kalau ada yang mau ditanya atau masih bingung, coba komen di bawah—saya akan coba jawab semua pertanyaan.
Kalau ada yang salah atau kelewat, jangan segan untuk kasih tahu di komen biar teman-teman di sini juga bisa tahu dan belajar bareng.
Subscribe kalau menurut Anda artikel ini berguna, and see you in the next video! 📱🎥
Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman real shooting dengan HP untuk various projects. All settings dan recommendations tested dan proven untuk create cinematic-looking footage dengan smartphone—no excuses, no expensive gear required.