Kalau saya bisa mengulang waktu, ini cara yang akan saya lakukan untuk belajar videography dari nol.
Setelah 6+ tahun berkecimpung di dunia videography tanpa background formal, saya menyadari ada banyak hal yang bisa saya lakukan lebih efisien. Artikel ini adalah refleksi pengalaman saya—kesalahan yang saya buat, waktu yang terbuang, dan insight yang baru saya pahami bertahun-tahun kemudian.
Jika Anda baru memulai atau bahkan sudah beberapa tahun di industri ini, mudah-mudahan tips ini bisa mempercepat learning curve Anda.
1. Prioritaskan Belajar Lighting Sejak Hari Pertama
Mengapa Lighting Harus Dipelajari Pertama Kali?
Anda bisa punya kamera $10,000, tapi kalau lighting jelek, hasilnya tetap jelek. Sebaliknya, dengan kamera $500 dan lighting bagus, Anda bisa bikin hasil yang cinematic.
Kesalahan Saya di Awal: Lighting Hanya untuk Menghindari Noise
Dulu, saya pikir lighting itu cuma buat menerangi scene—biar tidak perlu naikkan ISO terlalu tinggi di kamera karena takut noise.
Padahal sebenarnya, lighting jauh lebih penting daripada sekadar menghindari noise.
Bagaimana Perjalanan Videography Saya Dimulai
Waktu SMA, ada PR kelompok dengan tugas bikin film. Teman-teman saya tidak ada yang mau jadi kameramen—semuanya mau jadi talent.
Dan di sinilah videography saya dimulai.
Cara saya belajar videography itu grasak-grusuk. Karena saya tidak punya background kuliah film, saya tidak punya struktur belajar yang jelas.
Dan kalau saya bisa mulai dari awal, yang akan saya pelajari pertama kali adalah lighting.

Aha Moment: Menemukan Epic Light Media
Waktu saya bikin video untuk PR kelompok itu, dan project berikutnya, dan berikutnya—saya selalu merasa ada sesuatu yang kurang.
Hasil video saya selalu terlihat datar, dan jauh dari referensi film yang saya tonton.
Sampai akhirnya saya menemukan channel Epic Light Media. They make very good contents. Hanya dari channel ini saja, saya langsung improve jauh. Dan di sini terjadi sort of “aha moment” untuk saya.
Begitu saya mencoba beli lampu dan praktikkan cara lighting, semua video yang saya bikin langsung mendekati bayangan saya.
Kunci Utama: How Do You Shape Your Light
Saya yakin, semua orang yang suka kamera pasti cepat mengerti cara pakai kamera. Tapi hanya sedikit yang paham kalau lighting itu yang membentuk gambar Anda.
Lighting Membentuk:
- Mood dan atmosphere
- Depth dan dimensi
- Fokus perhatian audience
- Karakter visual yang unik
Resource Belajar Lighting yang Saya Rekomendasikan
- Epic Light Media – Paling bagus untuk lighting setup project-project corporate
- Brady Bessette – Bagus untuk belajar cara lighting sebuah scene di rumah
- Ermia Ramez – Referensi untuk lihat setup lighting ala film di rumah
- Reilin Joey – Referensi untuk gabungin lighting + grading + creative shots (paling bagus untuk contoh solo run and gun)
- Wandering DP – Practical lighting setups
- Aputure – Technical knowledge tentang lighting equipment
Bukan cuma dari Epic Light Media—banyak video YouTube bagus yang saya tonton untuk belajar lighting. Video-video tersebut sudah saya kumpulkan jadi satu playlist. Anda bisa lihat listnya di blog saya.


2. Pilih Niche Secepat Mungkin (Dan Konsisten di Situ)
Controversial Take: Anda Tidak Perlu Bisa Semua Jenis Video
Ini pendapat yang mungkin banyak orang tidak setuju, tapi untuk saya: Find your niche as soon as possible.
Anda tidak perlu bisa semua jenis video, dan Anda juga tidak perlu ambil semua project video.
Videographer itu ada banyak dan sangat saturated. Hampir semua videographer bisa bikin berbagai jenis video. Apa yang bisa bikin Anda beda dari yang lain? Ya, itu spesialisasi Anda di sebuah niche.
Contoh Sederhana:
- Kalau memang Anda demennya video fashion, ya tidak perlu belajar video makanan
- Jagonya bikin video wedding, ya tidak perlu belajar animasi
- Suka video automotive, tidak perlu paksa diri bikin video kuliner
Pengalaman Pribadi: Saya Pernah Coba Semua
Dulu saya juga coba semua jenis video: Video makanan, video produk, real estate, mobil, motion graphic, short movie, VFX—semuanya saya cobain. Semua project saya bisain.

Kapan Waktu yang Tepat untuk Memilih Niche?
Memang di awal, Anda tidak akan tahu mana yang Anda suka, jadi Anda explore.
Tapi begitu Anda menemukan yang paling Anda suka, pilih niche itu dan fokus di situ for a long period of time.
Bagaimana Cara Mengetahui Niche yang Tepat?
Kalau untuk saya, simpelnya: setiap saya selesai shoot, saya semangat untuk langsung mengedit. Nah, di situ saya tahu apa yang saya suka.
Dan niche itu untuk saya adalah video mobil (automotive videography). Setiap project video mobil, pasti pulang langsung saya edit—bahkan sering begadang karena excited dengan footage yang saya dapat.
Mengapa Spesialisasi Itu Penting?
Kemampuan spesifik untuk kebutuhan spesifik. Saya kenal banyak orang yang sukses karena mereka simply the best in their field. Dan mereka sudah melakukan itu for a very long time.
Contoh dari Industri:
- Wedding videographer yang hanya fokus wedding selama 10 tahun—rate mereka puluhan juta per project
- Automotive videographer yang hanya shoot mobil—brand besar seperti BMW, Mercedes selalu hire mereka
- Food videographer yang specialized di F&B—restaurant chains jadi klien tetap
3. Pelajari Software yang Jadi Standar Industri (Dan Konsisten dengan Pilihan Anda)
Kesalahan Fatal: Mulai dengan Software yang Salah
Ini juga masih nyambung dengan poin sebelumnya tentang memilih dan konsisten.
Pertama kali mengedit, saya pakai (kalau kalian tahu namanya) Sony Vegas Pro 13. Saya ngasal aja nyari di Google “best editing software”—karena dulu YouTube belum banyak edukasi seperti sekarang, jadi cari-cari sendiri.
Problem dengan Googling Random Software
Tidak lama setelah 2 tahun pakai Sony Vegas, saya langsung ketemu keterbatasannya dan akhirnya harus belajar software baru lagi dari nol—belajar Premiere lagi dari nol, belajar DaVinci lagi dari nol.
Ini problemnya kalau kita cuma nyari di Google:
- Banyak orang posting hanya untuk tujuan SEO
- Mempromosikan software mereka sendiri (affiliate)
- Seringkali opini pribadi yang misleading, seperti: “Kalau pemula lebih cocok Sony Vegas, Adobe CC buat pro dan lebih ribet”
Apa yang Seharusnya Saya Lakukan?
Kalau saya bisa mengulang, saya akan memaksakan diri belajar apa yang menjadi industry standard dari awal.
Tidak cuma software apa yang dipakai, tapi juga workflow yang proper, equipment yang standard, semua yang menjadi industry standard.
Contoh di Era Sekarang: Jangan Mulai dari CapCut
Kalau saya dulu Sony Vegas, kalau jaman sekarang: jangan mulai belajar edit dari CapCut.
Paksakan belajar basics dari software standard dulu, baru consider pakai CapCut kalau butuh speed dan kemudahan.
Karena CapCut cuma simplified version dari software-software standard ini, yang kemudian fiturnya dikhususkan untuk content creation.
Mengapa Harus Belajar Software Standard Dulu?
Dengan belajar software standard, Anda jadi tahu lebih dalam tentang “kenapa”nya.
Contoh pertanyaan yang bisa Anda jawab:
- Kenapa warna video bisa beda di laptop vs di HP?
- Kenapa ada higher, lower, dan recommended bitrate di CapCut?
- Apa itu color space, gamma, dan color management?
- Bagaimana workflow yang proper dari ingest sampai delivery?
Analogi Belajar Piano: Saya tidak tahu apakah ini relatable atau tidak, tapi ibarat main piano—belajar basics-nya dari klasik dulu, baru nanti bisa variasi ke pop, jazz, dan lain-lain.
Software Editing yang Menjadi Industry Standard
| Software | Best For | Keunggulan |
|---|---|---|
| Adobe Premiere Pro | General video editing, TVC, corporate, YouTube | Paling widely used, integrasi After Effects, banyak tutorial |
| DaVinci Resolve | Color grading, film, commercial | Free version powerful, color tools terbaik |
| Final Cut Pro | Mac users, fast-paced, event | Magnetic timeline efficient, optimized untuk Mac |
Rekomendasi Path Belajar
Untuk Pemula:
- Mulai dengan DaVinci Resolve (gratis dan powerful)
- Pelajari fundamental editing: cutting, transitions, audio mixing
- Belajar color grading basics
- Setelah 6-12 bulan, evaluate apakah perlu pindah ke Premiere atau tetap di Resolve
Untuk yang Serius Kerja di Industri:
- Invest di Adobe Creative Cloud (Premiere + After Effects)
- Pelajari workflow integration antara Premiere dan AE
- Master keyboard shortcuts untuk efficiency
- Belajar proper project management dan file organization
4. Invest di Lensa, Bukan Hanya Body Kamera dan Gear
Topik Underrated: Pentingnya Investasi Lensa
Topik underrated yang videography jarang bahas adalah lensa. Padahal menurut saya, harusnya kita lebih banyak invest di lensa daripada body kamera dan gear.
Mengapa Orang Lebih Tertarik dengan Gear Lain?
Karena lensa itu mungkin boring, dan semua orang lebih tertarik dengan gimbal terbaru, kamera terbaru, smoke machine, dolly, drone. Sama seperti saya juga—tertariknya barang-barang keren seperti itu.
Realisasi yang Datang Terlambat
Kalau saya bisa belajar dari awal, saya harusnya spend time dan money lebih di lensa. Karena ini yang menentukan karakter visual kita.
Keuntungan Invest di Lensa
Dan plusnya: body kamera bisa ganti, tapi invest di lensa bisa Anda pakai bertahun-tahun.
- Canon EF lenses dari 20 tahun lalu masih relevan dan bagus sampai sekarang
- Vintage lenses dari era film masih dicari untuk character-nya
- Zeiss, Leica, Sigma Art hold value dengan baik
Apa yang Membuat Lensa Bernilai?
- Character – Cara lensa render warna, bokeh, flare
- Sharpness – Resolving power untuk detail
- Build quality – Metal vs plastic construction
- Aperture – Seberapa besar bukaan maksimal (f/1.4, f/1.8, f/2.8)
- Bokeh quality – Bentuk dan smoothness out-of-focus area

Lensa Mana yang Harus Dibeli Pertama Kali?
Untuk Pemula dengan Budget Terbatas:
1. Standard Zoom: 24-70mm f/2.8
- Versatile untuk hampir semua situasi
- Aperture f/2.8 cukup untuk low light dan bokeh
- Options: Tamron, Sigma (lebih affordable dari Canon/Sony)
2. Fast Prime: 50mm f/1.8
- Murah (1-2 juta)
- Bokeh bagus
- Great untuk belajar composition
- Low light capable
Untuk Intermediate (Sudah Punya Niche):
Automotive/Action:
- 16-35mm f/2.8 (wide angle untuk drama)
- 70-200mm f/2.8 (compression dan isolasi subject)
Portrait/Interview:
- 85mm f/1.4 atau f/1.8 (flattering perspective)
- 35mm f/1.4 (environmental portrait)
Cinematic/Narrative:
- Prime lens set: 24mm, 35mm, 50mm, 85mm
- Consider vintage lenses untuk character unik
Budget Allocation yang Saya Rekomendasikan
Kalau budget total Anda 30 juta:
- Body kamera: 10 juta (33%)
- Lensa: 17 juta (57%)
- Accessories: 3 juta (10%)
Invest more in glass, because it lasts longer and defines your visual more than the body.
Saya tidak punya banyak pengalaman tentang lensa, tapi ini content yang bagus menjelaskan pentingnya mencari karakter lensa sendiri: Ivan Saputra Alam – Channel YouTube yang deep dive tentang lensa dan character-nya.
5. Bikin Akun YouTube Baru Khusus untuk Referensi Konten Luar Negeri
Ide Kontroversial tapi Efektif
Ini bisa jadi ide bagus atau buruk, tapi saya melihat banyak sekali orang punya referensi yang jelek-jelek. Bukan mau menjelekkan, tapi kalau Anda cuma nonton referensi dari Indonesia, itu tidak akan cukup.
Mengapa Content Luar Negeri Lebih Bagus?
Orang di luar negeri itu entah kenapa lebih kreatif:
- Shot-nya jauh lebih variatif
- Lebih yolo—hidupnya buat mengejar passion
- Traveling lebih sering—jadi melihat lebih banyak hal
- Punya geography yang bagus untuk cinematography
Teori Geography dan Natural Lighting
Saya tidak tahu apakah ini benar atau tidak konsepnya, tapi saya punya pemikiran: Kita by geography adalah negara khatulistiwa, artinya matahari persis di atas kita.
Jadi sulit sekali untuk dapat hasil video yang cinematic secara alami.

Beda cerita kalau kita ke luar negeri. Saya sendiri pun langsung terasa bedanya kalau shoot di luar negeri—shoot ngasal pun lighting-nya bagus, mau jam berapa pun seperti bagus terus.
Mungkin karena di mereka matahari tidak direct dari atas—sama seperti kita setup key light untuk cinematic: 45-60 derajat, bukan ditaruh di atas seperti matahari di Indonesia.
Channel YouTube yang Saya Rekomendasikan
Akun YouTube baru itu subscribe ke channel-channel yang bahas pure videography:
- Reilin Joey
- Andy Ax
- Danny Gevirtz
- Herman Huang
- James Matthews
- Gaku Lange
- Gavin Keeney
- Nur Niaz
Cara Setting YouTube Account untuk Learning
- Bikin Google Account baru
- Set location ke United States
- Gunakan bahasa Inggris
- Subscribe hanya ke channel videography/cinematography
- Watch videography content secara konsisten (algoritma akan adjust)
- Jangan campur dengan entertainment (gaming, vlog, dll)
Manfaat dari Strategy Ini:
- Algoritma YouTube akan recommend high-quality videography content
- Exposure ke standard global, bukan hanya lokal
- Melihat trend sebelum masuk ke Indonesia
- Belajar dari best practices di industri internasional
Anda bisa klik blog saya—saya akan taruh lengkapnya list channel recommended di situ.
6. Dokumentasi Semua Referensi dengan Rapi (Gunakan Notion atau Playlist)
Problem yang Sering Terjadi
Kalau Anda menemukan sesuatu yang keren, please dokumentasikan referensi Anda dengan rapi.
Saya sering banget punya bayangan video yang bagus di kepala, tapi giliran orang (atau client) tanya: “Contohnya gimana?” Referensi selalu tidak ketemu.

Dampak Buruk dari Tidak Punya System
Jadi satu-satunya cara untuk menjelaskan ide saya adalah dengan langsung membuatkan videonya. Dan ini jelek, terutama kalau untuk project client.
Saya sering banget spend time berjam-jam cuma untuk mencari referensi yang hilang. Kita tidak bisa mulai shoot sebelum konsepnya align dengan client.
Solusi: System Dokumentasi yang Proper
Option 1: Notion (Paling Recommended)
Cara pakai Notion untuk dokumentasi referensi:
- Buat database dengan kategori:
- Topic/Genre (wedding, automotive, corporate, dll)
- Lighting style (natural, dramatic, high-key, low-key)
- Camera movement (dolly, gimbal, static, handheld)
- Color grade (warm, cool, teal & orange, vintage)
- Audio/Music style
- Add properties:
- Link ke video
- Screenshot/thumbnail
- Notes tentang apa yang menarik
- Technical details (lens, camera, lighting setup jika ada info)
- Tag dan filter untuk mudah dicari nanti
Kalau malas bikin dari nol, copy saja template Notion saya untuk menyimpan referensi—gratis, link ada di bawah sini.
Option 2: YouTube Playlist
Cara termudah untuk save referensi cepat—buat playlist berdasarkan kategori, save video yang inspirational, beri deskripsi di playlist tentang apa yang menarik.
Kekurangan: Tidak bisa add notes detail, dan video bisa dihapus oleh creator.
Option 3: Download Video (Advanced)
Lebih baik lagi kalau Anda download videonya. Contoh: Kadang saya ingin referensi dari video Iman Gadzhi, karena cinematography dan editing-nya top notch. Tapi dia sering sekali delete videonya. Jadi consider untuk download referensi penting.
Tools untuk download: 4K Video Downloader, yt-dlp (command line), Browser extensions
Manfaat Long-term dari System Ini
- Save waktu saat pitch ke client
- Lebih mudah komunikasi visual dengan team
- Inspiration on demand saat creative block
- Build personal style dengan analyze pattern dari referensi favorit
- Professional presentation ke client dengan moodboard yang rapi
Pro Tip: Analyze, Don’t Just Collect
Jangan cuma save referensi—analyze kenapa Anda suka shot tersebut:
- Apa yang membuat shot ini menarik?
- Lighting setup-nya seperti apa?
- Camera movement-nya bagaimana?
- Color grade-nya dominan ke mana?
- Audio/music-nya matching dengan visual?
Tulis notes ini di Notion atau di deskripsi file Anda.
7. Latihan dengan Meniru Shot dari Referensi (Deliberate Practice)
Insight dari Buku “The First 20 Hours”
Saya membaca buku berjudul “The First 20 Hours” karya Josh Kaufman. Isinya tentang belajar skill baru.
Dan 20 jam pertama ini tidak refer to learning (nonton tutorial), tapi hands-on experience dan apprenticeship.
Kesalahan Saya: Latihan Tanpa Goal
Dulu saya cukup sering bawa kamera ke mana-mana, cuma untuk merekam random saja. Dan sayangnya itu random tanpa goal.

Cara yang Lebih Efektif: Recreate Shot dari Referensi
Kalau saya bisa mengulang waktu, dan saya document references seperti poin sebelumnya, saya akan percepat learning curve belajar video dengan cara recreate shot dari referensi.
Mengapa Metode Ini Powerful?
Experience dan cara saya belajar pasti jauh lebih dalam karena: Dengan mencoba meniru sesuatu, kita jadi tahu gimana teknis membuat shot itu, termasuk lighting setup-nya, angle-nya, camera movement-nya, lens choice-nya, timing dan pacing-nya.
Dan seringkali saya coba meniru persis pun pasti ujung-ujungnya tidak bisa persis, dan saya seperti: “Gila, ternyata tidak segampang itu!”
Contoh Personal: Mencoba Meniru Shot dari “Billions”
Sesimpel saya coba meniru shot dari series Billions, saya bingung kenapa punya saya tidak bisa sebagus itu. Ternyata yang kelihatannya cuma office biasa, tidak semudah itu untuk di-replicate.
Setelah analyze lebih dalam, baru saya sadar:
- Mereka pakai multiple light sources untuk depth
- Practical lights (desk lamp, window light) di-supplement dengan kino flo
- Camera height dan angle sangat calculated
- Color grade dengan teal & orange yang subtle
- Lens compression dari focal length tertentu
Benefit dari Meniru Shot Profesional
- Langsung berasa di mana level Anda sekarang
- Tahu apa yang diperlukan untuk mencapai shot seperti itu
- Belajar problem-solving secara praktis
- Develop eye for detail
- Build technical skills dengan context yang jelas
Cara Implementasi: 30-Day Recreate Challenge
Week 1: Lighting
- Pilih 3 shot dengan lighting setup berbeda
- Analyze lighting direction, intensity, color temperature
- Recreate dengan equipment yang Anda punya
- Compare hasilnya, identify gap-nya
Week 2: Camera Movement
- Pilih 3 shot dengan camera movement menarik
- Break down movement: speed, smoothness, timing
- Recreate dengan gimbal atau handheld
- Practice sampai smooth
Week 3: Composition & Framing
- Pilih 3 shot dengan composition unik
- Analyze rule of thirds, leading lines, symmetry
- Recreate dengan subject berbeda tapi composition sama
- Experiment dengan variation
Week 4: Complete Scene
- Pilih 1 scene pendek (30-60 detik)
- Recreate shot-by-shot
- Edit dengan pacing yang sama
- Color grade untuk matching look
Tips untuk Deliberate Practice
- Start dengan shot yang achievable—jangan langsung Roger Deakins
- Focus pada satu aspect per practice session
- Document proses Anda untuk lihat progress
- Ask for feedback dari community atau mentor
- Iterate dan improve berdasarkan feedback
Rekomendasi Scene untuk Latihan
Untuk Pemula: Product shots dari Apple commercials, simple interview dari documentary, lifestyle shots dari Nike ads
Untuk Intermediate: Car shots dari automotive commercials, cinematic walking shots dari music videos, dialogue scenes dari TV shows
Untuk Advanced: One-shot sequences dari films, complex lighting dari cinema, VFX-heavy shots (practical recreation)
Jadi untuk pemula, cara belajar videography paling cepat adalah dengan coba meniru sampai sama persis dengan referensi dulu. Apalagi kalau yang ditiru scene film besar—Anda akan langsung berasa di mana level Anda sekarang dan apa yang diperlukan untuk mencapai shot seperti itu.
8. Banyakin Proyek Gratis (Apprenticeship & Real-World Experience)
Pelajaran Penting tentang Free Projects
Terakhir, saya akan melakukan lebih banyak proyek gratis. Dulu saya terlalu fokus mengejar client dan ingin langsung dibayar. Padahal di awal karier, proyek gratis itu penting banget untuk apprenticeship.
Mengapa Free Projects > Low-Paid Projects untuk Pemula?
1. Free Playground untuk Eksperimen
Memberikan orang project gratis bikin Anda jadi punya playground. Anda punya kesempatan untuk eksperimen dengan resources yang didukung, seperti tempat/lokasi, product-nya, model-nya, props dan set design.
Ini lebih baik daripada bikin spec ad sendiri dengan resource terbatas.

2. Belajar Client Management
Dan Anda akan sadar bahwa: Bikin passion project sendiri ≠ Bikin project untuk orang lain (bahkan kalau gratis)
Anda tidak akan punya 100% control untuk video orang, walaupun itu gratis, karena mereka punya interest tersendiri.
Tapi karena itu, Anda jadi belajar:
- Cara komunikasi dengan client
- Mengerti apa yang orang lain suka
- Cara berkompromi
- Gimana mengemas ide Anda agar bisa diterima client
- Managing expectations
- Delivering on time dengan feedback loop
Free Projects ≠ Spec Ads
| Aspect | Spec Ads (Solo) | Free Projects (Real Client) |
|---|---|---|
| Control | 100% creative control | Collaborative, ada feedback |
| Resources | Terbatas pada budget sendiri | Client provide location, product, talent |
| Pressure | No deadline pressure | Real deadline dan expectations |
| Portfolio Value | Good for showcasing style | Better—shows you can work with clients |
| Learning | Technical skills only | Technical + soft skills |
Siapa yang Harus Anda Approach untuk Free Projects?
Best Targets untuk Free Work:
1. Small Local Businesses
- Cafe, restaurant, barbershop
- Mereka butuh content tapi belum punya budget
- Win-win: mereka dapat content, Anda dapat portfolio
2. Startup & New Brands
- Baru launching, butuh brand video
- Budget terbatas tapi punya product menarik
- Potential jadi paying client kalau mereka grow
3. Non-Profit Organizations
- Selalu butuh video untuk awareness campaign
- Good cause = meaningful work
- Networking dengan board members yang well-connected
4. Friend’s Business/Project
- Low pressure environment
- Easy communication
- They’ll be patient dengan learning process Anda
5. Events (Wedding, Corporate, etc.)
- Offer jadi second shooter gratis
- Belajar dari main videographer
- Dapat footage untuk portfolio tanpa full responsibility
How to Approach Free Project Offers
Bad Approach (Terkesan Desperate):
“Halo, saya videographer pemula. Saya bisa bikin video gratis untuk bisnis Anda. Tertarik?”
Good Approach (Value-First):
“Halo! Saya notice bisnis Anda belum punya video untuk Instagram. Saya sedang build portfolio di niche [X], dan saya pikir produk/bisnis Anda perfect untuk showcase di portfolio saya.
Saya ingin offer untuk buatkan 1-2 video promosi secara gratis. Anda dapat content untuk social media, saya dapat portfolio piece.
Apakah Anda tertarik untuk collaborate?”
Elemen Penting dalam Pitch:
- Clear value untuk mereka (content yang bisa mereka pakai)
- Transparent tentang tujuan Anda (build portfolio)
- Specific offer (berapa video, duration, deliverables)
- Professional tone meskipun gratis
Ground Rules untuk Free Projects
Meskipun gratis, tetap treat seperti paid project:
- Brief tertulis – Dokumentasi expectations dan deliverables
- Timeline yang jelas – Kapan shoot, kapan deliver
- Revision limit – Maksimal 2-3 rounds of revision
- Usage rights – Anda bisa pakai untuk portfolio, mereka bisa pakai untuk marketing
- Professional behavior – On time, communicate clearly, deliver quality
Red Flags: Kapan Harus Menolak Free Projects
Jangan terima free project kalau:
- Client expecting unlimited revisions
- Scope terlalu besar (contoh: full-day event coverage tanpa team)
- Client tidak respect waktu atau work Anda
- Project tidak align dengan niche atau portfolio goal Anda
- Client bilang “kalau bagus nanti dibayar” tapi tidak clear terms-nya
Transition dari Free ke Paid Work
Setelah 5-10 free projects dengan quality tinggi:
- Portfolio sudah cukup kuat
- Anda sudah punya testimonial dari free clients
- Skill sudah develop dari repeated practice
- Confident dengan workflow Anda
Saatnya mulai charge.
Tips transition:
- Start dengan rate rendah (tapi tidak gratis)
- Gradually naikkan rate setiap 3-5 projects
- Past free clients bisa jadi paying clients atau referrals
- Build case study dari best free projects untuk pitch ke bigger clients
Free projects di awal karier itu investasi, bukan rugi. Anda invest waktu dan effort sekarang untuk accelerated learning, strong portfolio, client management skills, network dan referrals, confidence untuk charge proper rate nanti.
Tapi ingat: ada expiry date untuk free work. Setelah 6-12 bulan, Anda harus transition ke paid work.
Penutup: Otodidak dengan Strategy
Jadi kalau saya bisa mengulang waktu dan mulai dari nol, saya akan tetap otodidak untuk belajar video. Karena tidak ada yang bisa mengatur kreativitas itu harus gimana.
Tapi setidaknya kita bisa mempercepat cara kita belajar dengan belajar dari pengalaman orang lain.
Recap: 8 Hal yang Akan Saya Lakukan Berbeda
- Prioritaskan lighting sejak hari pertama – Karena ini 70% dari kualitas visual
- Pilih niche secepat mungkin – Spesialisasi mengalahkan generalis
- Belajar software industry standard – Jangan mulai dari simplified tools
- Invest lebih di lensa – Body ganti, tapi lensa tahan bertahun-tahun
- Bikin YouTube account untuk referensi luar – Exposure ke standard global
- Dokumentasi referensi dengan rapi – System beats ad-hoc searching
- Latihan dengan meniru shot profesional – Deliberate practice beats random practice
- Banyakin proyek gratis di awal – Apprenticeship tidak ternilai harganya
Reminder Penting
Path setiap orang berbeda. Ini adalah path yang akan saya ambil kalau bisa mengulang, berdasarkan pengalaman saya. Anda mungkin akan menemukan path berbeda yang lebih cocok untuk Anda—dan itu completely fine.
Yang penting:
- Be intentional dengan learning Anda
- Practice with purpose, bukan random
- Learn from others tapi develop style sendiri
- Consistency beats intensity – 1 jam sehari selama 1 tahun > 10 jam seminggu sekali
Final Thoughts
Videography adalah craft yang membutuhkan waktu, practice, dan patience. Tidak ada shortcut, tapi ada smart path—dan mudah-mudahan artikel ini bisa jadi guide untuk Anda.
Good luck dengan videography journey Anda!
Kalau artikel ini membantu, share ke teman-teman yang juga belajar videography. Kalau tidak membantu… ya sudah tidak apa-apa 😄
Artikel ini ditulis berdasarkan pengalaman personal sebagai videographer otodidak selama 6+ tahun, dari mulai project sekolah sampai bekerja dengan brand dan clients. Semua insight di sini adalah hasil trial and error, kesalahan yang mahal, dan pelajaran yang dipetik sepanjang perjalanan.

